Setelah dipikir dan direnungkan kembali, jadi blogger zaman now modal menulis doang itu nggak cukup ya. Artinya, kita perlu punya skill selain itu. Setuju nggak? Boleh enggak sih hehehe.

Mengingat udah buaanyaaakk banget blogger bertebaran di Indonesia ini. Di Malang aja ada berapa blogger tu yang berceceran *eh* saat event. Apalagi yang di ibukota macam Jakarta. Saingannya banyak buuuk!

Tapi dilihat-lihat diantara ratusan ribu blogger yang bertebaran itu berapa persen yang profesional? Berapa banyak yang benar-benar menjiwai dirinya sebagai penulis di blog masing-masing? Berapa persen yang memang benar-benar menulis dari hati, tidak sekadar memburu goodie bag? #eaaaa…harap tenang…harap tenang hehehe.

Untuk itu saya jadi kepikiran untuk mencoba skill baru lainnya, selain menulis di blog sendiri.

Belajar Fotografi

Apa itu?

Fotografi. Ehehehe.

Bagi sebagian orang ini sebenernya udah sepaket buat blogger ya. Saya memang nggak memungkiri blog yang bagus itu selain tulisannya sedap mantap tapi juga didukung sama foto-foto yang bagus pula.

Nah, problem saya adalah setiap kali selesai menulis, selalu merasa kebingungan untuk memasukkan foto. Karena seringkali fotonya kurang mendukung. Eh pas sudah diposting ternyata nggak enak banget ya dilihatnya. Solusinya ya saya comot aja foto-foto gratisan di situs semacam unsplash, freepik atau pixabay. 

Bahkan perkara begini aja pernah ditegur suami, “Foto tu jangan ngasal dong. Nulis yang bagus, fotonya ya juga harus bagus. Biar sedep dilihatnya”. *JLEBB*.

Untuk itu saya ingin menyeriusi skill ini. Salah satunya dimulai dengan bergabung ke komunitas fotografi Ibu Profesional Malang. Di sini para ibu-ibu yang doyan motret ngumpul-ngumpul berfaedah soal fotografi.

Saya merasa jadi ada temannya deh. Pertama, karena di komunitas ini isinya ibu-ibu hehehe, jadi sembari belajar motret sekalian (sesekali) curhat soal dunia per-ibuan *eh*. Kedua, nggak cuman modal jepret-jepret aja tetapi juga belajar segala seluk beluk dunia fotografi. Mulai dari style fotografi, tools yang dipake, proses editing foto, gimana mengambil angle yang bagus, dll.

Di komunitas ini kami juga menyerap ilmu sebanyak-banyaknya sama fotografer profesional. Beberapa waktu lalu misalnya, kami belajar bagaimana mengambil foto hanya bermodalkan kamera ponsel. Literally motretnya pakai hp aja. Belajarnya sama mas Titus, salah satu fotografer pro dari Komunitas Fotografi Ponsel. Cek deh foto-fotonya mas Titus di sini super kece! Dan itu modal HP semua!

Saya kira motret itu ya tinggal buka kamera, cekrek, udah.

Ya enggak semudah gitu juga kalau hasil yang diinginkan maunya ciamik. Tapi dibalik foto yang bagus tentu saja ada perjuangan yang harus dilakukan.

Di balik foto ini saya lagi panas-panasan dan dilihatin orang karena motretnya sambil njinjit2 karena pengen ngambil angle dari atas hahaha.

Di balik foto pasangan pre wedding yang romantis, ada fotografer yang rela nungging-nungging buat ngambil angle dari bawah biar terkesan dramatis ((eh emang gitu? haha))

Di balik foto seorang bayi yang baru lahir, ada fotografer yang turut sabar menunggu momen ibunya menjalani proses melahirkan. Yang ini beneran saya pernah lihat sendiri waktu dulu jadi wartawan liputan bayi kembar lima. Beuh! Wartawan dan fotografernya udah stand by sejak habis subuh! Demi memotret momen penting itu.

Di balik foto makanan yang bikin ngiler, ada fotografer yang super telaten mengatur table setting dan nggak malu motret dari atas sambil naik kursi! Ya demi ngambil angle yang bagus.

Di balik foto-foto naturenya National Gegraphic yang soooo awesome ada fotografer yang sabar, peka, jeli, kreatif akan situasi dan momen yang terjadi.

Dan di balik foto anak yang tertawa bahagia, ada seorang ibu yang suabar ikutan nggodain dia biar ketawa bahkan lelarian ke sana kemari biar anaknya mau foto. Lah, ini mah saya ya haha. Seriusan motret anak balita itu menantang juga lho. Harus menunggu moodnya bagus, belum lagi anaknya yang super aktif kayak bola bekel hehehe.

Yang jelas di balik foto-foto kece itu ada proses yang panjang dan melelahkan. Tapi saya nggak mau berhenti nyoba. Karena belajar fotografi itu ternyata sama menagihnya dengan menulis.

aksi flying trapeze
Motret objek bergerak gini ternyata nggak mudah. Harus ambil jepretan berpuluh-puluh kali loh! Biyuuuh!

Asah Potensi Diri = Membuat Personal Branding

Dua skill (yang sedang ditekuni) ini bikin stress saya jadi tersalurkan ke arah yang positif hehe.

Nah, siapa tahu kelak jika skill ini saya kembangkan bisa bermanfaat dan tentu saja bisa dikomersilkan ehehe. Kita nggak tahu kan rezeki itu datangnya dari arah yang nggak disangka-sangka.

Saya jadi teringat sama pesannya Teh Ani Berta saat beliau sharing di Malang pada Mei lalu. Kata Teh Ani zaman sekarang jadi blogger itu saingannya banyak. Maka cari juga sisi unik atau potensi diri yang lain, kembangkan dan tekuni!

Dengan menekuni skill selain ngeblog bisa juga menciptakan personal branding yang kuat dan spesifik terhadap blogger tersebut.

Misalnya, blogger yang suka menggambar bisa dikenali lewat karya gambarnya.

Blogger yang menekuni dunia make up bisa dikenali dengan skill make up artist. 

Atau, blogger yang doyan bikin DIY craft bisa menciptakan mainan atau apapun dengan tangan sendiri alias handmade. 

Nah, kalau kamu skill apa sih yang sedang ditekuni saat ini? Mari kita sharing!

 

 

9 COMMENTS

    • karna di IG semua foto harus terlihat sempurna haha ((teori sapa pula ini)). beruntung sekali sekarang banyak aplikasi editing foto yaaa. jadi kalau2 fotonya agak kurang cerah bisa diedit wkwk

  1. Setuju, bahwa ngeblog zaman sekarang emang gak cukup cuma bisa nulis saja. Fotografi salah satu skill yang bisa mendukung ngeblog. Tapi.. aku kok belum bisa ya menekuni skill ini. Mau kumpul-kumpul komunitas aja susah keluar rumah. Kalo otodidak dan secara online aja belum mampu. Huhu.
    *curcol

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here