Siapakah yang sampai hari ini masih menonton TV di rumah?

Sejak menikah (dua tahun silam) saya dan suami memutuskan tidak menonton TV di rumah. Itu artinya kami memang tidak memiliki TV. Sebelumnya pun saya udah jarang banget nonton TV. Nonton pun hanya untuk keperluan melihat berita yang sedang update. 

Maklum dua tahun lalu saya masih bekerja di salah satu media nasional di Surabaya sebagai jurnalis, otomatis saya harus tahu berita-berita terkini yang sedang hits. Jadi menonton TV buat keperluan bahan liputan.

Sebenarnya kami bukan anti ya sama TV. Bagi kami nonton TV bukan sebuah kebutuhan. Jadi ya nonton seperlunya saja. Toh, di rumah orangtua saya sudah diet TV sejak empat tahun lalu.

Gara-garanya sih karena Ibu saya trauma karena adik laki-laki saya yang mulai kecanduan nonton TV saat dia masih SD. Tiap bangun tidur nyalain TV, habis mandi eh udah anteng di depan TV, pas makan nyalain lagi, kalau lagi sepi dan nggak ada orang di rumah ya larinya ke TV.

Dia begitu pun nggak ujug-ujug ‘kecanduan’. Faktor utamanya karena Ibu saya sempat kecolongan. Jadi saat masih balita, adik saya diasuh oleh mbak ART di rumah sementara Ibu pergi bekerja. Hampir sepanjang hari-harinya diisi dengan nonton TV. Tentu saja ini menjadi sebuah penyesalan di kemudian hari.

Bahkan pernah suatu kali dia dapat kado playstation dan ya bisa ditebak hampir setiap hari dia anteng di depan TV. Aduh, udah nggak sehat banget lah. Akhirnya playstation itu dijual sama Ibu saya.

ini ilustrasi aja 😀

Sampai hari ini TV di rumah orangtua saya hanya berfungsi sebagai pajangan di ruang keluarga. Udah lama banget rusak. Awalnya sih adik saya sempat protes karena dia jadi nggak bisa nonton siaran sepak bola tim  favoritnya. Tapi sama Ibu saya nggak ditanggapi. Saya juga kadang-kadang merasa ‘sepi’ pas TV di rumah nggak nyala. Yang biasanya tiap pagi nyalain TV buat lihat berita, atau nonton kartun favorit, eh tiba-tiba kayak ada yang ‘kosong’ gitu.

Tapi lambat laun kita serumah jadi bodo amat sama TV yang nggak nyala-nyala itu. Kita semua tetap melakukan kegiatan masing-masing. Ibu tetap ngajar, Bapak berangkat ke kantor, adik-adik pergi sekolah, saya buru-buru berangkat liputan. Nyatanya hidup kami nggak ada yang berubah – tanpa TV.

Karena sekarang kalau pun mau update berita ya tinggal searching aja di Youtube atau di media sosial. Bahkan di media itu semua info lebih cepat tersebar dan tentu saja lebih update.

Selain alasan tersebut sebenarnya ada beberapa pertimbangan kenapa saya dan suami tidak memakai TV di rumah:

1. Konten yang Kurang Bermutu

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya tentang adik yang pernah kecanduan, nah saya nggak pengen hal tersebut berulang ke anak saya. Apalagi beberapa tayangan di TV makin ke sini kok makin kurang bermanfaat. Misalnya sinetron yang beberapa pemerannya memang anak-anak, tapi kontennya dewasa banget. Ngajarin bullying, beberapa pakai kata-kata yang kasar bahkan ada unsur pornografinya. Gimana nggak was-was kan? 🙁

Memang sih nggak semua acara di TV buruk, tapi berapa persen sih yang kontennya positif?

Pun dengan beberapa TV yang concern pada konten berita saja, isinya beberapa malah ngajak ribut dan bikin hati panas.

Lho kan sekarang ada TV berbayar? Kita bisa kan memilah channel yang kita inginkan?

Iya bener, kebetulan saya dan suami di rumah pakai wifi yang ada program TV berbayar. Tapi sampai hari ini belum kami pakai, karena ternyata ya sama aja kurang ‘sreg’ sama pilihan channel yang sudah dipaketin sama provider. Jadi kita ya streaming aja program yang mau kita tonton, nggak semua, sesuai kebutuhan aja. Nontonnya pun pas anak udah tidur haha.

2. Nggak Ingin Anak Kecanduan

Saya nggak pengen anak-anak saya kelak jadi ketergantungan sama TV. Pernah dengar beberapa kali seminarnya bu Elly Risman tentang bahaya pornografi melalui gadget dan TV. Naudzubillah serem banget 🙁

Kan mulai banyak tuh program-program kartun dan acara anak-anak yang dibalut konten pornografi dengan sangaaattt halus.

Contoh kecil sih (menurut saya yah) kayak film Beauty and The Beast. Gembar-gembornya ini film bisa dikonsumsi mulai dari anak-anak sampai dewasa, intinya semua umur. Tapi pas saya lihat dan renungkan isinya kok lebih ke konten dewasa yaa hmmmm. Jadi mikir-mikir kalau anak saya sudah agak besar nanti akan lebih selektif memilih program acara atau film.

Lalu bagaimana hidup tanpa TV?

Sebenarnya ya jadi biasa aja karena sebelum menikah saya sudah memutuskan hubungan sama TV. Si Akmal sampai hari ini juga belum kami berikan program TV berbayar atau kartun.

Tapi susahnya kalau kami sedang di luar, misalnya di rumah makan yang ada TV-nya. Otomatis kami nggak bisa menghindar. Suatu hari pernah sih kami makan di sebuah rumah makan dan kebetulan banget sedang menayangkan sebuah kartun. Si Akmal langsung excited gitu dan loncat-loncat lihat tokoh kartun yang warna-warni sambil nyanyi-nyanyi. Saya sama suami cuman pandang-pandangan, antara pengen ketawa sama mbatin “waduuuuhh”.

Hidup tanpa TV memang sih membuat kami lebih capek karena harus ngikutin Akmal main ke sana ke mari. Rumah jadi lebih berantakan, kerjaan saya di rumah hampir nggak selesai-selesai karena Akmal minta ditemenin main teruuus haha.

kalau buntu mau ngajak main apa, kasih aja air sama botol udah seneng dia haha.

Enaknya lagi hidup jadi lebih tenang karena nggak perlu mantengin acara-acara yang bikin pusing itu. Dan bodo amat dibilang kudet hehe. Selain itu saya berasa jadi lebih aktif karena harus ngejar Akmal yang energinya (kayaknya) nggak habis-habis gitu.

Eh tapi jujur aja sih kalau saya sudah terlampau lelah kadang-kadang saya memberikannya tontonan di Youtube. Tapi bukan kartun, saya memperlihatkan tayangan hewan-hewan di channel National Geographic. Itu pun saya batasi banget, cuman 5-10 menit. Dan tentu nggak setiap hari.

Nah, ini nih yang masih menjadi PR buat saya dan suami, pemberian screentime untuk anak. Sebenarnya saya nggak mau memberikannya pada usia dini karena menurut kami belum perlu.

Tapi gimana ya kadang-kadang prinsip kita nggak sejalan sama realita di lapangan haha ((alesaaaan… usaha dan niat kurang kuat haha)).

Kalau buibu gimana nih adakah yang masih menyimpan TV di rumah? Bagaimana membatasi screentime pada anak? Sharing yuk! 🙂

3 COMMENTS

  1. Menurut saya sih sekarang TV nggak terlalu diminati sama anak-anak dan orang tua. Di rumah saya yang nonton TV cuman ibu saya yang umurnya 76 tahun dan jarang mau buka ponsel. Tantangan paling berat sekarang ini ya gawai. Mau larang anak pake gawai eh emak bapaknya pake juga. Mau dikasih batasan waktu, udah terlanjur susah. Belum lama ini saya baca ada pendapat ahli pendidikan yang bilang, kita tidak bisa membatasi atau melarang anak memakai gawai, karena tidak semua yang ada di gawai itu negatif. Orang tua lebih baik selalu mengawasi apa yang ditonton oleh anak pada gawainya. Yaah…….ngomong sih enak, emangnya kita bisa ngawasin terus ? Walaupun gawai itu juga banyak positifnya, kita juga tau yang ditonton anak itu jarang yang positif. Kalo nggak main Ig, nonton YouTube, pasti main game. Saya juga dengerin terus ceramahnya Bu Eli Risman, tapi susah banget ngejalannnya……..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here