Menjadi ibu merupakan sunnatullah. Tetapi, menjadi ibu yang biasa-biasa saja tidak ada dalam kamus Dewi Nur Aisyah. Dewi, sapaan akrabnya, membuktikan bahwa menjadi seorang ibu di usia yang masih terbilang muda tetap dapat berkarya bahkan menginspirasi banyak wanita muslimah di luar sana.

Dewi merupakan salah seorang epidemiologist dari Indonesia. Kini, ia menetap di Inggris bersama keluarga kecilnya di London, Inggris. Ibu satu anak tersebut telah menginspirasi banyak wanita terutama muslimah. Kesuksesannya dalam menjalani karir sebagai seorang ahli kesehatan, seorang ibu muda, istri juga sebagai pelajar menjadikannya panutan bagi banyak muslimah tidak hanya dari Indonesia tetapi juga muslimah dari berbagai negara di tempatnya kini mengemban ilmu.

Di tengah-tengah kesibukannya sebagai ibu dan istri, kini Dewi melanjutkan studi doktoralnya di University College London (UCL). Ia menekuni bidang infectious disease epidemiology and population health. Ibu dari Najwa  Falisha Mehvish itu mendapatkan beasiswa prestisius dari Beasiswa Presiden Republik Indonesia (BPRI). Dewi lolos seleksi dari ribuan calon pendaftar lainnya dan dilantik langsung oleh Presiden RI, Bpk. Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2014.

Sejak awal sebenarnya Dewi berniat untuk menekuni kedokteran. Namun, takdir berkata lain. Ia malah ditempatkan Allah di Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Indonesia. “Saat itu saya berpikir, jika Allah takdirkan saya menimba ilmu di bidang ini, maka saya harus menjadi yg terbaik,” katanya. Dia menuturkan, memang sangat menyukai keilmuan bidang kesehatan. Dirinya pun menyadari masih banyak PR yang harus dikejar dan diperbaiki di bidang tersebut untuk Indonesia.

Meski tidak masuk jurusan yang diinginkannya, namun Dewi tetap berprestasi. Terbukti, ia mampu lulus FKM UI dalam kurun waktu 3,5 tahun dengan nilai cum laude. Ia pun dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi FKMU UI pada 2009 lalu. “Lagi-lagi saya diajarkan, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang saya inginkan”.

Untuk mendalami bidang yang ditekuninya, Dewi pun mengambil studi di luar negeri. Dia melanjutkan studi magisternya di Imperial College London, berbekal Beasiswa Unggulan dari DIKTI. “Saya sengaja sekolah ke LN untuk mengambil ilmu mereka yg sudah sangat jauh di depan dari negara kita. Berharap ilmu itu bisa saya sebarkan lagi di Indonesia,” ujarnya.

Menjalani studi di negeri orang tentu bukan hal mudah. Akan tetapi, Dewi mengaku senang bahwa di London seorang muslim sangat diterima. Dia mengaku, belum pernah mendapatkan tindakan diskriminatif selama tinggal di London. “Sejak pertama saya menjejakkan kaki di London, saya merasakan atmosfer yang hangat, tidak membesar-besarkan perbedaan. Mereka bersikap baik dan ramah kepada siapapun. Bisa jadi karena tingkat pendidikan mereka juga tinggi, mereka lebih terbuka untuk menerima perbedaan yang ada”, tuturnya.

Suatu kali, Dewi pernah ditanya seorang teman kampusnya mengenai makanan. Saat itu ia dan temannya makan di restoran. Namun, Dewi memilih-milih makanan yang sekiranya halal. “Lantas saya ditanya teman, kenapa kamu sangat memilih-milih makanan. Saya jawab saja saya hanya bisa memakan menu yang halal,” terangnya. Dia pun mengatakan, temannya tidak masalah dan mereka malah melanjutkan diskusi.

Selain kesibukannya melanjutkan studi, Dewi juga menyempatkan diri berkarya lewat tulisan. Ia sedang menggarap bukunya yang berjudul ‘Awe-Inspiring Me’. Dewi berharap dengan menuliskan pengalamannya,  ada kebaikan yang bisa dibagi dan tidak hanya disimpan sendiri.

Menjalani berbagai peran, Dewi mengaku bukan hal mudah. Ia juga pernah merasa pada fase lelah dan jenuh. Namun, ia selalu mengingat pesan ibunya. “Kata ibu saya kalau hidup ya capek. Hanya orang meninggal yang tidak merasakan capek.  Maksud beliau, capek itu sudah merupakan sunnatullah (default-nya) dalam kehidupan. Nggak usah menggerutu atasnya, tapi berdoa agar setiap lelah kita bernilai pahala di sisi-Nya.” tutur wanita yang pernah bekerja sebagai Program Development Manager di INDOHUN (Indonesia One Health University Network) tersebut.

Dia meyakini meyakini bahwa tingkat kesuksesan itu sebanding dengan tingkat usaha. “Kalau mau berhasil gemilang ya ikhtiarnya pun harus maksimal. Yang pasti, perjuangan itu dimulai dengan mendisiplinkan diri, mengurangi waktu istirahat, dan mau lebih letih dibanding yg lain. Saat kegagalan menimpa, jangan pernah putus asa. Karena kita tidak pernah tahu di usaha yang keberapa pencapaian itu tercipta” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here