Tuesday, October 19, 2021

Review

Home Review

Jangan Remehkan Gigi Berlubang

gigi berlubang

“Aduuuh, sakit banget gigi Ibu! Rasanya cenut-cenut sampe ke ubun-ubun!”

Ibu lantas mengambil air hangat dan mencampurkannya sedikit dengan garam. Lalu larutan itu dia gunakan untuk berkumur-kumur. “Biar nyerinya berkurang,” katanya.

Sudah hampir setahunan ini Ibu mengeluhkan giginya yang sakit. Rupanya Ibu mengalami gigi berlubang.

Gejala Awal Gigi Berlubang

Sejak sakit gigi, Ibu merasakan nyeri saat mengonsumsi makanan baik itu panas ataupun dingin. Bahkan nyerinya itu sampai ke kepala dan membuatnya jadi pusing. Namun hal ini hanya berlangsung sesekali saja tidak yang setiap waktu.

Gigi yang berlubang jadi lebih sensitif saat kita menggigit makanan. Apalagi kalau makanannya bertekstur keras. Huhu rasanya menghujam sampai ke akar-akarnya 🙁

Mau makan nggak enak, mau tidur nggak nyaman. Kalau cenut-cenutnya datang semua makanan yang biasanya menggoda selera jadi nggak nafsu untuk menyentuhnya.

Saya juga pernah sakit gigi berlubang. Kalau lagi minum es krim, rasanya langsung nyut! Berdenyut tanpa ampun! Sensitivitas pada gigi jadi lebih tinggi. Alhasil gegara sakit gigi saja bisa memengaruhi ke seluruh tubuh.

Ah, dari sakit gigi saja kita bisa mengambil hikmah bahwa betapa nikmatnya rezeki sehat.

Kita sering lupa kalau sehat juga termasuk rezeki, nggak hanya harta, tahta dan keluarga tapi kita malah sering mengabaikan dan nggak menjaganya dengan baik.

Lha wong dikasih sakit gigi satu biji saja mengeluhnya berhari-hari dan membuat kita terhambat untuk melakukan beberapa aktivitas. Mengganggu produktivitas dan sangat berpengaruh juga ke emosi kita.

Jangan Remehkan Gigi Berlubang!

Persoalan sakit gigi berlubang ini memang nggak bisa diremehkan lho. Selain Ibu, adik saya, sebut saja adik N juga pernah mengalaminya. Bahkan dia lebih parah, tidak hanya satu gigi saja tetapi jumlahnya mencapai 6 gigi berlubang!

Gigi geraham bagian belakangnya sudah habis tak bersisa. Sebagian lagi ada yang sudah dicabut atau ditambal.

Kalau sedang kumat, giginya nggak hanya merasakan nyeri tapi juga muncul beberapa sariawan. Selain itu gusinya juga beberapa kali jadi bengkak dan berdarah. Bahkan jika sakitnya tak tertahankan adik saya mengalami demam.

Persoalan gigi berlubang pada adik N  itu malah berlangsung sejak usianya masih di bangku SMA. Beberapa kali adik N berkunjung ke dokter gigi hanya untuk cabut gigi, atau tambal gigi atau kontrol setelah semua tindakan itu.

Efeknya nafsu makan tidak senormal orang lain. Sehingga berujung pada fisiknya yang –agak- ringkih.

Adik N pernah cerita, waktu ke dokter dirinya harus duduk di ‘kursi panas’ ruangan dokter gigi selama beberapa jam. Dokter memintanya membuka mulut dan memeriksa seluruh kondisi giginya yang bermasalah itu.

“Wah ini sih harus dioperasi mbak karena sudah parah,” kata dokter gigi saat itu.

Mendengarnya adik saya tentu saja shock. Tetapi mau tak mau dia harus melaluinya, pasrah pada keputusan dokter demi kesembuhan gigi berlubang yang dialaminya.

Pengobatan Gigi Berlubang

Melihat kondisi gigi berlubang yang dialami adik N, dokter akhirnya mengambil tindakan. Namun sebelumnya dokter memintanya untuk mengambil foto X-ray gigi.

Menurut dokter, beberapa gigi adik N memang harus dicabut. Sebab kerusakan pada lubang gigi sudah sangat parah. Setelah itu dokter memintanya untuk memakai gigi palsu untuk mengisi celah bekas gigi yang dicabut. 

Pengobatan pada gigi berlubang yang dilakukan dokter itu berbeda-beda ya. Tergantung tingkat keparahannya.

Kalau pengobatan yang dilakukan pada gigi Ibu saya, dokter melakukan perawatan saluran akar gigi.

Seperti yang dilansir di websitenya Halodoc, pada perawatan saluran akar gigi, dokter gigi melakukan penghilangan jaringan saraf dan bagian gigi lain yang membusuk.

Lalu memeriksa bagian yang terinfeksi dan memberikan obat ke akar gigi sesuai kebutuhan. Setelah itu, gigi akan diisi dan mungkin diletakkan mahkota gigi di atasnya. 

Persoalan gigi berlubang ini memang nggak boleh dianggap sepele. Sebab jika dibiarkan dampaknya membahayakan lho.

Salah satunya bisa nejadi penyebab masalah jantung hingga stroke.

Waduh, apa hubungannya?

Ternyata, gusi yang mengalami luka memicu masuknya bakteri di mulut ke dalam aliran darah, sehingga mengakibatkan infeksi pada otot jantung bagian dalam. Begitu pula dengan risiko terjadinya stroke.

Jangan sampai deh terjadi, naudzubillah ya.

Mulai sekarang kita harus aware sama kesehatan gigi. Dimulai dari rutin sikat gigi sehari 2 kali, mengonsumsi makanan yang tidak terlalu dingin maupun panas, dan banyak konsumsi sayur dan buah.

Kalau sekarang kamu sedang mengalami masalah gigi, segera periksakan ke dokter gigi ya. Nggak perlu takut, sekarang mah sudah terbantu banget dengan adanya aplikasi Halodoc.

Kita bisa konsultasi secara online dan memilih dokter di aplikasi Halodoc sesuai kebutuhan kita. Selain itu bisa juga mencari obat yang kita butuhkan. Tinggal klik aja obat yang diinginkan lalu duduk manis di rumah, nggak lama obatmu akan sampai.

Di masa pandemi begini jangan lelah untuk banyak bersyukur yuk. Termasuk nikmat sehat yang sudah Allah beri. Jadi jangan lupa jaga nikmat dari Allah ini ya!

Kembangkan Startup di Daerah 3T Bersama Dayamaya

Siapa nih yang sedang merintis Start Up?

Eiits, bukan drakor yang lagi hits itu lho ya. Tapi beneran usaha rintisan yang bisa memberikan manfaat dan dampak nyata untuk masyarakat. Namun memang tidak semua orang dianugerahi dan punya kesempatan untuk memulai usaha rintisan.

Karena apa? Ya memang prosesnya itu enggak mudah. Kok bisa-bisanya saya bilang begini? Karena saya menyaksikannya sendiri yang terjadi pada suami.

Dulu dia pernah bikin sebuah Start Up di bidang pertanian tuh sama teman-temannya. Programnya membantu para petani untuk sama-sama maju membantu petani menjajakan hasil dagangannya melalui sebuah website. Website tersebut  dibuat untuk memasarkan produk petani agar lebih dikenal luas oleh masyarakat.

Namun seiring berjalannya waktu usaha rintisan tersebut enggak bertahan lama. Beberapa kendala menjadikan start up tersebut jadi mandeg di tengah jalan.

Salah satunya disebabkan karena masih kurang meleknya para petani akan literasi digital. Bisa jadi juga karena hambatan sinyal di daerah pedesaan ya. Sehingga menyebabkan mereka jadi menganggap bahwa dunia digital itu tidak begitu urgent.

Sebenarnya program yang bagus tapi jika kurang didukung sama fasilitas yang memadai sangat disayangkan juga, ya.

Tapi jangan sedih dan kecewa dulu buat kamu yang ingin mengembangkan start up, UMKM atau bahkan komunitas dari daerah yang susah sinyal atau dikenal dengan sebutan daerah 3T (terluar, tertinggal, terdepan). Sebab kini Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) melaksanakan Program Dayamaya.

Apa itu Dayamaya?

Yakni program yang membantu pertumbuhan startup, komunitas, kelompok masyarakat, dan UMKM digital untuk diterapkan di daerah 3T.

Jika kamu pelaku usaha atau startup, pegiat komunitas dan perintis UMKM, program ini bisa jadi solusi untuk mengembangkan ekosistem ekonomi digital di daerah 3T.

“Melalui peran startup, komunitas, dan UMKM yang terlibat, kami harapkan dapat mempercepat kemajuan di daerah 3T. Saat ini sudah ada lima inisiatif, dari 18 yang terpilih pada tahun 2019, yang mulai berproses di masyarakat. Kami yakin dengan peran serta mereka, akan segera terjadi perubahan di daerah 3T menuju ke arah yang lebih baik,” kata Danny Januar Ismawan, Direktur Layanan TI untuk Masyarakat dan Pemerintah.

Tujuannya supaya masyarakat di daerah 3T memiliki kesempatan yang sama untuk maju dan berdaya dimulai dari dunia maya. Nah, ini kesempatan buat kalian yang ingin menjadi penyebar kebajikan.

Zaman sekarang yang dibutuhkan itu kolaborasi bukan sekadar kompetisi. Maka Dayamaya ini tidak hanya bergerak di satu sektor tapi juga mengajak seluruh pegiat komunitas dan pelaku startup maupun UMKM di berbagai sektor. Misalnya, kesehatan, pendidikan, pariwisata, agribisnis, fintech, logistik dan e-commerce.

Dari beberapa sektor tersebut ada 3 inisiatif yang telah memberikan kontribusinya kepada masyarakat secara langsung diantaranya, Atourin, Cakap, dan Jahitin.

Atourin (atourin.com)

Kamu suka travelling?

Nah, Atourin ini salah satu perusahaan teknologi di sektor pariwisata yang memberikan layanan one-stop-solution kepada para wisatawan.

Contohnya seperti penyediaan informasi obyek wisata se-Indonesia, rekomendasi rencana perjalanan ke berbagai destinasi di Indonesia, dan jasa pemesanan pemandu wisata tersertifikasi.

Menurut Reza Permadi selaku Tim Operasional Atourin, pada tahun 2019 terdapat 10  pemandu wisata di Natuna sudah memiliki lisensi, lebih berani melakukan self branding, dan mulai memanfaatkan media sosial untuk melakukan promosi. Dengan ini diharapkan akan ada lebih banyak lagi pemandu wisata yang berlisensi.

“Di masa pandemi ini, salah satu satu program kami yaitu melakukan pelatihan secara daring bagi pemandu wisata se-Indonesia. Kami ajarkan bagaimana cara membuat tur virtual. Dengan pelatihan ini, diharapkan pemandu wisata dapat memanfaatkan internet untuk menghadirkan layanan virtual tour baik kepada wisatawan dalam negeri maupun mancanegara” kata Reza.

Cakap (cakap.com)

Selain Atourin, hadir pula Cakap yang concern dalam bidang bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Sebagai platform aplikasi pembelajaran online Cakap telah menyelenggarakan digital assessment di Kabupaten Sabu Raijua dan Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menggunakan standarisasi CEFR (The Common European Framework of Reference for Languages).

Program melibatkan peserta setingkat pelajar SMA sebanyak 250 orang, kegiatan ini dilakukan secara daring melalui ruang belajar digital dalam sebuah kelas online yang diisi oleh guru bahasa Inggris asing (ESL Teacher).

Untuk menjadi peserta dapat  mendaftar dengan mengakses website resmi Cakap. Sejauh ini sudah ada beberapa daerah yang mendaftar yaitu Kalimantan Selatan, Maluku Utara, Sulawesi Utara dan Bangka Belitung. Sulawesi Utara dan Kalimantan Selatan sebagai daerah terbanyak yang mendaftar menjadi peserta.

Peserta akan mendapatkan akses kelas webinar, materi pembelajaran dalam bentuk ebook, akses video pembelajaran, kuis untuk evaluasi dan mengukur kemampuan bahasa Inggris selama program, pendampingan oleh guru profesional dan lokal fasilitator, serta mendapatkan sertifikat penyelesaian di akhir program.

Jahitin (jahitin.com)

Jika diantara kalian seorang penjahit maka belajar di Jahitin Academy adalah pilihan yang tepat. Jahitin Academy memberdayakan SDM dengan meningkatkan skill para penjahit di Provinsi NTT, khususnya di Sumba Barat dan Sumba Barat Daya.

Mereka mengolah limbah kain tenun menjadi cushion pillow. Selain itu mempertemukan para penjahit untuk mengerjakan orderan 5000 masker.

Progran Dayamaya memberikan kesempatan bagi siapapun pelaku usaha, startup, UMKM serta pegiat komunitas untuk sama-sama menyebarkan kebajikan dan berjuang Berdaya Bersama.

 

Tips Menyewa Villa Murah dan Aman di Masa Pandemi

sewa villa murah

Terlalu lama mendekam di rumah terus itu mempengaruhi psikis kita lho. Sejak beberapa bulan selama di rumah aja saya merasa jadi lebih emosional dan bawaannya pengen ngomel-ngomel terus. Ya gimana yang dilihat dan ditemui itu-itu aja kan.

Ke dapur ketemunya suami, ke kamar mandi dibuntutin anak, di ruang keluarga eeeh ketemu mereka lagi hahaha. Belum lagi urusan rumah yang berasanya nggak kelar-kelar ya bun. Kadangkala rasa jenuh itu hadir.

Sebelum pandemi datang, kalau saya lagi suntuk saya mencoba nyari udara segar keluar rumah, ke taman, ke perpustakaan atau sekadar main ke rumah teman.

Nah selama masa pandemi ini sedikit mengurangi sih ke tempat keramaian. Kalau merasa suntuk di rumah saya menyiasati ke tempat terbuka yang minim keramaian, meski itu hanya sekadar jogging di sekitaran komplek rumah.

Atau menyewa villa bisa menjadi alternatif sebab tempatnya yang lebih privat dan eksklusif.

Menyewa villa bisa menjadi pilihan liburan bareng keluarga di era new normal ini lho. Ya setidaknya ganti suasana lah daripada di rumah terus hehe. Plusnya, kita nggak perlu berbagi fasilitas dengan orang lain seperti layaknya di hotel.

Karena kalau di villa kan semua tempat dan fasilitas dibebaskan untuk diakses tanpa ada orang lain dari luar. Misalnya, kamu dan keluarga bisa bebas di kolam renang, tanpa mengganggu orang lain atau sebaliknya, merasa “risih” ketika ada orang lain.

Sewa villa juga menjadi pilihan sebagian keluarga saat traveling dalam jumlah rombongan besar, karena ya memang lebih hemat ketimbang hotel. Coba kalau anggota keluarganya banyak kan harus memesan kamar hotel lebih dari satu. Duh, malah membengkak tuh budgetnya. Makanya kudu pinter-pinter nih nyari harga sewa villa murah yang bertebaran di internet.

Selain itu sewa villa tuh berasa di rumah sendiri tapi tentu dengan suasana berbeda. Konsep villa jauh lebih homey dengan fasilitas lengkap seperti dapur, ruang kumpul keluarga, hingga pekarangan di luar, membuat villa terasa bagaikan di rumah sendiri.

Menyewa villa di masa pandemi tentu harus lebih selektif daripada sebelumnya. Penting banget sih memerhatikan protokol kesehatan yang diterapkan sama si empunya villa yang mau kamu sewa. Berikut ini bisa jadi pertimbangan kamu ketika mau sewa sebuah villa di era new normal:

  1. Pastikan villa tersebut menerapkan konsep kebersihan dan kenyamanan selama pandemi. Cek secara detail apakah villa tersebut menerapkan pedoman kebersihan menggunakan desinfektan yang mengandung ethanol/methanol dicampur alcohol 70%.
  2. Tanyakan pada pemilik villa apakah menyediakan alat kebersihan atau tidak. Kalau pun tidak berjaga-jagalah membawa dari rumah ya.
  3. Cari tahu juga ya pada pemilik villa berapa hari jeda menginap pada penyewa sebelumnya. Supaya kita bisa benar-benar menerapkan social distancing dan memastikan permukaan ruangan tidak menjadi sumber penularan virus.
  4. Kalau bisa bawa sendiri aja sarung bantal, sprei, handuk, selimut serta alat makan dari rumah demi meminimalisir dengan kontak penyewa sebelumnya.
  5. Sebelum menyewa rumah atau vila, komunikasikan dengan pemilik properti mengenai metode pembersihan yang dilakukan, siapa yang bertugas membersihkan, termasuk memastikan staf yang bertugas mengenakan masker, sarung tangan, dan penutup sepatu saat membersihkan properti.
  6. Cek destinasi wisata di sekitar villa apakah aman dikunjungi dan minim keramaian? Apakah daerah sekitar villa ketat dalam menjalani protokol kesehatan?
  7. Pilih villa yang tidak terlalu ramai dan aksesnya yang mudah dituju. Sewa villa di daerah puncak bisa jadi pilihan sebab suasananya yang asri, tenang dan nyaman.

Selain memastikan villa tersebut aman dan ketat menerapkan kebersihan, double check juga fasilitas yang disediakan ya. Apakah menyediakan dapur, apakah ada alat-alat masak, apakah alat kebersihannya lengkap? Intinya, sewa villa di era pandemi ini kudu lebih ekstra ya.

Cari villa yang berkualitas dengan harga murah itu susah-susah gampang lhoBanyak sekali pertimbangan yang harus dilakukan. Jangan sampai kamu tergiur dengan penawaran harga villa yang terlampau murah, namun kualitasnya buruk.

Kamu bisa langsung cek di situs www.sewa-villa.com kalau lagi nyari villa murah tapi dengan kualitas oke. Di situ beragam banget penawaran sewa villa murah yang sesuai sama budget kamu. Selamat berlibur dengan aman dan nyaman bersama keluarga! 🙂

 

 

Konsultasi dan Rapid Test Aman Selama Masa Pandemi

halodoc covid test surabaya
halodoc

Beberapa hari lalu suami flu. Batuk, pilek dan demam menyerang tubuhnya. Hampir tiga hari mendekam di rumah aja nggak ke mana-mana. Saya awalnya khawatir kalau gejala ini bisa lebih parah. Covid-19 menjadikan saya lebih parno dari biasanya.

Sebetulnya saya ingin menyarankan suami untuk ke dokter saja atau ke rumah sakit, duh tapi kok masih khawatir ya. Kasus corona yang belum juga mereda membuat kami jadi was-was untuk pergi ke rumah sakit. Terlebih kami masih memiliki anak balita yang memiliki risiko menular lebih tinggi. Sungguh sebuah dilema.

Hampir saja frustasi, saya langsung teringat pada Aplikasi Halodoc. Sebelumnya saya pernah menginstalnya untuk keperluan belanja APD seperti masker dan handsanitizer. Baru teringat kalau di Halodoc juga bisa konsultasi dengan dokter dan membeli obat tanpa harus ke apotek. Sebuah pilihan yang tepat dan aman di masa-masa genting seperti ini. Ah, terima kasih teknologi!

Tapi suami kekeh aja mau minum obat dari dokter yang pernah dia datangi dulu. Semacam sudah ‘kilk’ nggak mau pindah ke lain hati. Hanya sekarang kan belum berani langsung datang ke tempat praktiknya. Akhirnya ya sudah suami lebih memilih untuk langsung membeli obat flu dan batuk yang biasa diresepkan dokter langganan.

Tanpa perlu ke apotek, bermacet-macet di jalanan, lewat Halodoc semuanya terlayani dengan baik. Kita tinggal memilih mau memesan obat apa, lalu melakukan pembayaran dan pengantaran obat melalui Gojek. Sungguh praktis, mudah dan aman sebab semuanya serba online. 

Ketat akan Protokol Kesehatan

Sejak corona hadir kami sekeluarga jadi aware sama kesehatan dan kebersihan. Dulu mah boro-boro pakai masker keluar rumah, jarang banget. Sekarang bahkan Akmal anak kami wajibkan pakai masker meski cuman beli jajan ke warung depan rumah.

Kalau keluar sebentar meski itu hanya ke tukang sayur dekat rumah, saya sekarang sangu handsanitizer. Pulangnya langsung semprot-semprot disinfektan, cuci tangan dan ganti baju. Hal ini diterapkan ke setiap anggota keluarga di rumah, setiap hari.

Setiap pagi kami olahraga di sekitar perumahan. Meski hanya jogging atau jalan santai tak ketinggalan pakai masker. Tak lupa melengkapi kebutuhan gizi seimbang, istirahat yang cukup dan membuat suasana di rumah serileks mungkin supaya nggak terlalu stress. Saya juga mulai mengurangi dan menyaring baca berita soal covid-19 setiap hari karena jujur itu bikin kita jadi tertekan.

Apalagi sudah memasuki realitas new normal. 

Meski pemerintah telah menyudahi pembatasan sosial berskala besar (PSBB), tetap saja sebagai warga kita wajib mawas diri menjaga kesehatan keluarga. Intinya jangan sampai abai, ya bahkan bersikap seolah corona sudah musnah.

Terlebih bagi mereka yang sudah memulai aktivitas di luar rumah, bekerja dari kantor maupun membuka kembali restoran atau hotel mereka. Bagi saya mereka yang beraktivitas di luar tidak cukup hanya memberlakukan protokol kesehatan. Kalau perlu bahkan mendesak melakukan rapid test juga. Sebab ini termasuk upaya dalam memutuskan rantai penyebaran covid-19.

Siapa saja yang perlu melakukan Rapid Test?

Rapid test ini diprioritaskan untuk orang yang lebih berisiko terkena COVID-19. Seperti:

Kategori Risiko Tinggi:

  1. Menunjukkan gejala demam tinggi di atas 37.7 derajat Celcius.
  2. Menunjukkan gejala ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) berupa batuk berkepanjangan, pilek, hidung tersumbat, sesak napas.
  3. Dan dalam 7 hari terakhir berada di lingkungan yang memungkinkan ada kontak/berdekatan dengan pasien  positif COVID-19, misalnya kendaraan umum yang padat, atau dari bepergian daerah dengan frekuensi infeksi tinggi.

Kalau nggak memiliki gejala 1-2, namun beresiko poin 3, artinya termasuk resiko sedang, dan disarankan screening menggunakan rapid test, ya.

Kategori Risiko Rendah

Orang Tanpa Gejala (OTG)

Orang Tanpa Gejala adalah orang yang tidak memiliki gejala apapun namun pernah kontak erat dan tetap berisiko tertular dari pasien positif COVID-19.

Kontak erat dalam kriteria ini jika pernah melakukan kontak fisik secara langsung, berkunjung atau berada di dalam ruangan yang sama (dalam radius 1 meter) dengan pasien positif. Dalam 2-14 hari terakhir setelah kasus timbul gejala, maka disarankan untuk rapid test.

Tapi hari gini kadang kan masih parno ya untuk melakukan rapid test dengan mengantri di rumah sakit. Halodoc kini hadir memberikan solusi bagi teman-teman di Surabaya dan di manapun yang mau melakukan covid test Surabaya .

Mengapa lewat Halodoc? Karena kita bisa merencanakan jadwal sesuai kebutuhan kita. Jadi nggak perlu khawatir ngantri panjang di rumah sakit.

Cara melakukan rapid test melalui Halodoc mudah kokYuk, ikuti instruksinya berikut ini:

  1. Pertama-tama, buka aplikasi Halodoc dan klik tombol COVID-19 Test” kemudian kamu klik ini: Lokasi Rapid Test Drive.
  2. Setelah itu, kamu bisa memilih tempat dan waktu untuk melakukan rapid test ini.
  3. Kamu akan diminta untuk mengunggah foto/scan informasi diri (KTP untuk orang dewasa, dan Kartu Keluarga untuk anak di bawah umur) dan melakukan pemesanan.
  4. Jika sudah mengunggahnya, kamu akan melanjutkan ke tahap pembayaran. Biaya akan bergantung kepada biaya jasa tenaga medis dan penyediaan alat yang diberikan oleh pihak rumah sakit.
  5. Setelah berhasil, maka kamu akan menerima kembali SMS konfirmasi tentang jadwal tes dan detail pesanan. SMS tersebut harus ditunjukkan kepada petugas medis saat melakukan pemeriksaan kelak.

Gimana? Mudah banget kan. Semoga kita semua diberi kesehatan ya. Aamiin.

 

Sumber:

  1. https://www.farmaku.com/artikel/apa-itu-rapid-test-cara-kerja
  2. https://www.halodoc.com/layanan-rapid-test

 

Let’s Read: Pilihan Pas Perpustakaan Digital untuk Anak

“Bunda, ayo bacain (aku) buku!” pinta Akmal setiap kali mau tidur.

Namun tak jarang kebiasaan membaca buku bukan lagi saat mau tidur saja. Kadang saat mau makan, sehabis main lompat-lompat, ketika sudah bosan bermain dengan kucing-kucing, atau sekadar mengisi waktu di saat dia bosan dan tidak tahu mau ngapain. Tinggal sodorin buku dan dia seperti sudah tenggelam dalam dunianya sendiri.

Menumbuhkan minat membaca pada anak tentu bukan dibangun dalam semalam. Saat hamil saya sudah ngintip-ngintip dan nyicil beli buku anak-anak. Dan ketika Akmal masih bayi saya rutin membacakan buku padanya. Sedari awal saya bertekad kalau punya anak pengen banget dia cinta membaca. Seambisius itu, ya. Hehehe.

Kenapa Harus Repot Membacakan Buku kepada Anak?

Kenapa sih masih bayi, kok, udah dibacain buku? Memangnya dia ngerti? Jangankan paham isinya, itu deretan huruf-huruf apa aja si bocah juga belum tahu, kan?

Beberapa orang pernah mengatakan hal senada ketika melihat saya asyik membacakan buku pada Akmal.

Sebenarnya bukan karena agar si Akmal bisa cepat membaca, tapi lebih kepada menumbuhkan kecintaan budaya membaca.

Kalau menurut Fauzil Adhim, salah satu pakar parenting muslim dan penulis buku Membuat Anak Gila Membaca, menyatakan bahwa membaca itu dibagi menjadi dua pemahaman:

Pertama, membaca karena ingin memberi pengalaman. Artinya, lebih menekankan pada proses. Di sini anak nggak dituntut harus tahu huruf, bisa baca pada, atau merangkai kata di usia sekian. Bukan itu maksudnya. Tapi, memberikan kesan kalau membaca itu menyenangkan, lho. Nah, kalau udah begini harapannya kelak dia jadi suka baca. Poinnya, menumbuhkan gairah minat baca pada anak.

Kedua, membaca agar bisa merangkai huruf. Kalau yang ini obsesi agar anaknya bisa cepat mengetahui struktur huruf dan merangkai kata. Menurut Fauzil Adhim kalau ini tujuannya malah bisa membuat anak jadi cepat bosan. Karena anak dituntut agar bisa cepat baca. Artinya, ada paksaan. Fokusnya pada hasil, bukan proses.

Untuk saat ini kami (saya dan suami) lebih fokus pada poin pertama. Menumbuhkan minat membaca sejak kecil. Itu dulu aja deh yang penting.

Dari membacakan buku cerita sejak kecil, anak jadi belajar banyak hal baru. Mulai mengenalkan warna dan bentuk, nama-nama hewan, jenis-jenis mobil, dan sebagainya. Lewat buku juga Akmal mulai tahu orang dengan bermacam-macam profesinya. Orang yang membawa palu dan gergaji namanya pak tukang, yang berseragam cokelat membawa peluit di jalan namanya pak polisi, yang berjas putih berkalung stetoskop namanya pak dokter, dan sebagainya.

membaca buku sejak bayi
Waktu Akmal 6 bulan. Bukunya masih yang jenis board book, touch book, dan lebih banyak gambar.

Selain itu juga menambah kosakata sehingga meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Hal ini saya amati ketika Akmal sudah berusia 1,5 tahun. Kosakatanya mulai banyak dan sudah bisa merangkai satu kalimat. Kini di usianya yang menjelang tiga tahun sudah beraneka ragam pertanyaan yang sanggup dia ajukan kepada orangtuanya. Kadang-kadang sampai kewalahan menjawab. Hahaha.

Keterampilan membaca ini tentu bermanfaat buat bekalnya saat dewasa nanti. Agar pemikirannya jadi terbuka pada fenomena yang terjadi di sekitarnya dan nggak mudah percaya hoaks. Jadi inget sama kata-katanya Zen RS, salah satu editor media online. Dia bilang:

Yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah: meningkatnya minat berkomentar.

Bener banget ini sih kayaknya udah menjadi budaya netizen Indonesia. Apa-apa dikomentari tanpa dasar yang jelas.

Bagaimana Cara Menumbuhkan Minat Baca untuk Anak?

Langkah pertama dan sangat penting adalah memilih buku sesuai usia anak. Buku pertama Akmal jenisnya buku bantal. Bahannya dari kain dan empuk. Jadi nggak perlu khawatir sobek atau rusak. Sebab usia bayi artinya masih dalam tahap pengembangan motorik halus, jadi masih suka emut-emut dan nyobek-nyobek kertas. Selain itu gampang dibawa ke mana-mana dan nggak makan tempat karena bisa dilipat macam baju. Hehehe.

Selain itu ada pula jenis buku boardboook. Bahannya dari kertas karton tebal. Biasanya dalam satu halaman hanya terdiri satu atau beberapa kata saja dan satu gambar. Warnanya pun colourful. Anak-anak pasti suka.

buku bayi
Pilih buku yang colourful, bahannya awet dan ilustrasinya menarik.

Saat usianya sudah dua tahun kami mulai melibatkannya memilih buku bacaannya.

“Akmal suka gambar yang mana?” tanya saya saat melihat-lihat di toko buku. Ada masanya dia suka buku tentang dinosaurus, aneka macam burung, dan lainnya. Kalau sekarang sih dia sedang suka sekali sama cerita tentang petugas pemadam kebakaran.

Mengajak ke Perpustakaan atau ke Pasar Loak

Mengajaknya ke perpustakaan adalah salah satu cara menghemat pengeluaran membeli buku. Saya mengajak Akmal ke perpustakaan biasanya dua minggu sekali. Tapi karena lagi masa pandemi sekarang sementara perpustakaannya tutup 🙁

perpustakaan anak
“Minta tolong ya, Nak, ini perpustakaan bukan warung kopi!” Hahaha. Mohon jangan ditiru.

Akmal senang sekali diajak ke perpustakaan. Nggak seperti perpustakaan zaman saya SD dulu yang identik dengan jorok, berdebu dan tidak terurus. Perpustakaan di kota Malang sekarang baguuus banget! Rapi, bersih, dan ada ruangan bermain untuk anak. Kami selalu betah kalau main ke sana bahkan sampai ketiduran. Hahaha.

Sejujurnya buku anak-anak itu mahal, lho. Hehehe. Mungkin karena bahannya yang tebal dan berwarna-warni, ya. Jadi saya nggak selalu beli buku baru untuk Akmal.

Untungnya tempat tinggal kami tak jauh dari pasar buku bekas. Kalau Akmal kelihatan bosan dengan buku-bukunya, tinggal ajak dia meluncur ke pasar buku loakan itu dan belanja buku. Namanya juga pasar buku loakan, jadi harganya miring. Si bocah senang, kantong juga aman. Hehehe.

Baca juga yuk : Berkunjung ke Perpustakaan Umum Kota Malang yang Ramah Anak

Tantangan Membacakan Buku untuk Anak

Kalau pas bayi sih tantangan masih pada responnya yang belum tentu menunjukkan minat pada buku. Kadang dilempar, disobek, bahkan tak jarang masuk mulut.

Semakin ke sini tantangannya ada pada distraksi. Yakni distraksi adanya gadget. Saya nggak menyangkal sih kalau hadirnya gawai itu ya tak terhindarkan. Zaman sekarang balita sudah canggih mengoperasikan gawai. Jadi ya memang nggak bisa ‘lari’ dari gawai, kuncinya adalah dibatasi dan diseleksi.

Akhirnya saya dan suami berkompromi untuk membolehkan Akmal bermain HP tapi dibatasi satu hari hanya satu jam. Itupun di bawah pengawasan. Selain itu channel yang dipilih tentu yang kids friendly dan mengandung unsur edukasi.

Mengenalkan Anak kepada Buku Digital

Tantangan distraksi ini makin meningkat di masa pandemi. Frekuensi melihat HP jadi lebih banyak karena Akmal melihat ayah bundanya yang bekerja dari rumah, melihat kami berdua juga lebih intens dekat pada gawai.

Menurut kami ini jadi agak kurang sehat, ya.

Untungnya makin ke sini, aktivitas membaca buku juga makin inovatif. Kalau aktivitas melihat HP makin tak terhindarkan, setidaknya apa yang dilihat anak-anak kita tak jauh dari buku. Akhirnya sekalian kami kenalkan Akmal pada buku digital.

Berkenalan dengan Let’s Read: Perpustakaan Digital untuk Anak

Aplikasinya bernama Let’s ReadSebuah perpustakaan digital yang menyediakan ratusan buku digital khusus untuk anak-anak. Let’s Read diprakarsai oleh Books for Asia, yakni program literasi yang telah berlangsung sejak 1954. Program tersebut menerima U.S. Library of Congress Literacy Awards atas inovasi dalam promosi literasi pada Desember 2017. Perpustakaan digital ini dibangun untuk menumbuhkan budaya baca para pembaca cilik di Asia.

Ratusan Cerita Bergambar yang Menarik

Klik yang paling menarik karena Let’s Read punya banyak pilihan cerita.

Saat memperlihatkan pertama kali ke Akmal adanya perpustakaan digital ini, dia senang sekali. Kami benar-benar dimanjakan sama ilustrasinya yang menarik dan sangat colourful! Momen membaca jadi lebih menyenangkan.

Cerita pertama yang dipilih Akmal judulnya Hari yang Indah karya Elana Bregin.

Sebuah cerita sederhana tentang keluarga Nicholas yang berangkat piknik ke sungai. Gambar ilustrasinya atraktif, ceritanya sederhana tapi juga relate sama keseharian. Tentang keakraban keluarga yang bahagia.

Selain itu kita bisa memilih bukunya sesuai dengan tingkat kesulitan. Jadi ada levelnya gitu menyesuaikan usia dan pemahaman anak. Yang menarik lagi di Let’s Read menyediakan cerita dengan beragam bahasa selain bahasa Indonesia dan Inggris. Ada pula bahasa daerah dari Jawa, Sunda, Minangkabau dan Bali serta bahasa daerah lainnya di berbagai penjuru Asia. Ceritanya juga banyka yang mengusung kearifan lokal.

Bisa Diakses Secara Gratis dan Dibaca di Mana Saja!

Let’s Read bisa diunduh melalui Android. Selain itu bisa diunduh dan disimpan jika ingin membaca dan mengaksesnya tanpa internet. Kalaupun mau mencetaknya bisa juga. Tapi cuma untuk keperluan pribadi, ya. Jangan dicetak secara massal.

Bagusnya di Let’s Read, kita bisa pilih menu bahasa, level cerita, juga label tema cerita yang mau kita bacakan buat anak.

Bagi pengguna iOS bisa mengaksesnya melalui situs Let’s Read di browser. Situsnya pun sangat mobile friendly. Menurut saya masih nyaman dibaca sama dengan aplikasinya.

Let’s Read bisa menjadi salah satu alternatif perpustakaan digital yang pas untuk anak-anak, terlebih di masa-masa pandemi sekarang ini. Solutif banget buat meningkatkan minat baca pada generasi Z dan generasi Alpha yang sudah akrab sama gadget sejak kecil.

Jadi ayah bunda sudah download Let’s Read belum?