Friday, August 6, 2021

Keluarga

Home Ceritaku Keluarga

Pengaruh Sebulan #DiRumahAja Selama Masa Covid-19

#dirumahaja
#dirumahaja

Meski sehari-hari lebih banyak di rumah karena memang nggak kerja kantoran, tapi sejujurnya disuruh ndekem di rumah aja tanpa pergi ke mana-mana itu berat juga. Ini sudah hampir sebulan lebih beberapa hari sejak pandemi Covid-19 mewabah di Indonesia.

Selama ini pula saya sekeluarga nggak pergi ke mana-mana, kecuali palingan ke tukang sayur atau minimarket. Padahal ada banyak planning kegiatan bersama keluarga yang ingin kita laksanakan. Ternyata harus tertunda dulu huhuhu.

Event saya bersama teman-teman, silaturrahmi ke rumah orangtua, melakukan wawancara dengan beberapa narasumber untuk konten halounda, atau sekadar mengajak Akmal main ke pantai pun terpaksa ditunda entah sampai kapan.

Seminggu pertama saya masih merasa biasa saja. Pasalnya, ya hari-hari memang banyakan di rumah.

Mulai mengalami stress yang di ubun-ubun adalah minggu kedua atau ketiga. Selama beberapa hari sakit kepala migrain saya kumat. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi ke depan. Memikirkan nasib masyarakat yang berjuang di luar sana melawan virus corona, dan tentu memikirkan keluarga saya sendiri bagaimana nasib ke depannya.

Rasanya, semua jadi terasa serba tidak pasti. Hampir setiap hari saya bertanya-tanya dalam hati,

“Kapan ini semua akan berakhir? Kapan aku bisa bisa berkumpul sama keluarga besarku? Aku rindu jalan-jalan. Aku kangen teman-teman,”

Rasa cemas saya pun bertambah dua kali lipat. Terlebih sejak diumumkannya ada yang positif terinfeksi virus covid19 di daerah saya, kota Malang.

Hampir setiap bangun tidur saya buka HP, update berita terbaru sudah berapa korban jiwa, sudah melakukan langkah apa saja sih pemerintah, dan segala hal tentang virus corona. Rasanya, hampir separuh isi kepala isinya soal virus yang sudah memakan banyak korban jiwa itu 🙁

Selain memengaruhi kesehatan yang menyebabkan migrain kumat, saya jadi gampang emosi. Dalam hal ini tentu Akmal dan suami kebagian getahnya huhu. Akmal pun beberapa minggu terakhir mulai merasakan jenuh. Hampir setiap hari dia minta main ke luar, ke taman atau ke lapangan. Bahkan merengek terus sampai kepala saya mau pecah rasanya.

Hingga suatu hari saya mendengarkan kajian online. Dari situ ustadnya mengutip sebuah hadis yang menyentil saya,

Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya. -HR.Tirmidzi-

Saya termenung mendengar kutipan hadis tersebut. Selama pandemi ini alhamdulillah anak dan suami sehat, makan sehari-hari pun masih tercukupi. Seharusnya itu saja lebih dari cukup kan. Bahkan di luar sana masih banyak yang kebingungan memikirkan bagaimana untuk makan sehari-hari.

Masih ada banyak hal yang perlu disyukuri meski kita berada di masa-masa sulit ini. Toh, ini semua ketetapan dan kehendak Allah. Ya kita nggak bisa mengendalikan selain cuman bisa ikhtiar, berdoa dan pasrah.

Jadinya saya mulai berpikir legowo. Mulai berhenti bertanya kapan sih pandemi ini akan berakhir. Mulai menerka-nerka seperti apa nasib kita ke depan. Karena semua itu ya masih bayang-bayang.

Kata suami, yang penting berusaha apa yang bisa kita lakukan saat ini yawes dilakoni aja.

Hikmahnya, dengan situasi yang serba tidak pasti ini ada banyak hal baru yang keluarga saya rasakan.

Lebih Sadar akan Kesehatan dan Kebersihan

Kami jadi protect sama diri dan anak untuk menjaga kebersihan dan kesehatan. Setiap kali dari luar, suami segera melakukan penyemprotan desinfektan. Doi juga jadi rajin mandi hahaha. Setiap memegang apapun sebelum makan pasti langsung cuci tangan. Dan setiap pagi kami bertiga menyempatkan untuk berjemur. Meski hanya di sekitar komplek rumah.

berjemur
yuk berjemur

Saya yang dulunya mager banget bebikinan minuman ala-ala jurus sehat Rasulullah, jadi suka bikin wedang jahe dan sejenisnya. Ya meski nggak setiap hari sih hihi.

Lebih Dekat Sama Keluarga

Ya gimana ya setiap hari ketemunya sama anak, sama suami. Lo lagi lo lagi hahaha. Tapi kerasa banget sih bonding jadi lebih dekat. Bahkan suami yang akhirnya harus bekerja dari rumah menyempatkan bebikinan mainan buat Akmal.

Bikin mainannya pun yang bahan-bahannya mudah didapat di sekitar rumah. Mulai dari mobil-mobilan dari kardus, topeng dari karton atau yang modal ngeprin aja pakai kertas.

Meski bikin mainan yang sederhana tentu saja Akmal senang. Sesekali dia ikutan menempel kertas, ikut coret-coret seolah dia bikin sktesa gambar atau sekadar jadi supporter ayahnya yang sibuk motong kardus hahaha.

Masak Terus!

Di rumah aja itu membuat hasrat ingin makan terus meningkat. Sekarang hampir setiap hari saya masak. Kadang-kadang bikin camilan. Yang simpel-simpel aja sih seperti bakwan sayur, siomay ayam, cilok, bola-bola coklat, puding, kolak pisang, kentang goreng..eh kok jadi laper hehe.

foodprep

Meski capek tapi kalau dihitung-hitung memang sih lebih hemat masak sendiri. Kalaupun mager masak ya paling beli lauk aja, nasinya masak sendiri.

Kreatif untuk Survive

Pandemi ini juga sangat berpengaruh pada ekonomi. Hampir semua lini terkena dampaknya. Termasuk pada bisnis suami. Job blogger pun pada sepi hehe. Hal ini menjadikan kami untuk berpikir kreatif agar bisa survive dalam mencukupi kebutuhan keluarga.

Mencoba berbisnis di tengah pandemi adalah keputusan yang sangat besar. Saya dan suami pun memutuskan untuk berdagang dalam bidang penyediaan bahan pangan, yakni ayam broiler dan ayam kampung. Ya, ini keputusan yang amat menantang buat saya.

Sesuatu yang amat baru, pengalaman baru, semuanya serba unpredictable. Saya nggak tahu ke depan seperti apa, yang penting optimis dulu bisa bertahan dalam situasi seperti ini, meski entah sampai kapan.

Saya jadi belajar banyak hal dari berbisnis ini. Mulai dari bagaimana memilih bahan yang berkualitas, strategi marketing hingga soal accounting. Ya gimana sih anak lulusan sastra pada akhirnya kini harus dihadapkan sama urusan pembukuan keuangan, strategi dagang dan tetek bengek semacam itu. Berdebar-debar tapi somehow bikin nagih kalau banyak yang beli hahaha.

Semua rutinitas baru ini pada akhirnya hanya perlu pembiasaan. Bisa ya karena biasa kan. Saya mulai berhenti buka berita setiap hari, hanya sesekali. Saya mulai berhenti menyangkal bahwa keadaan akan kembali normal. Tidak, bukan saya pesimis, tapi berusaha legowo aja sama the new normal ini.

Berusaha merasa cukup sama apa yang Allah beri saat ini. Meski kita harus #DiRumahAja untuk batas waktu yang tidak menentu.

Semoga kita senantiasa diberi sehat selalu ya 🙂

 

Percakapan Bunda dan Akmal Tentang Covid-19

covid19

Sejak diumumkannya dua orang yang positif terkena virus covid-19, kami sekeluarga benar-benar membatasi diri untuk tidak banyak keluar rumah. Saya paling hanya ke tukang sayur keliling atau minimarket dekat rumah. Itupun seminggu sekali dan hanya sebentar saja.

Lalu bagaimana menjelaskan situasi dunia yang sedang berubah total saat ini pada Akmal?

Jujur, awalnya saya dan suami agak kesulitan menjelaskan soal virus covid-19 beserta dampaknya pada Akmal. Pasalnya, anak berusia dua tahun sembilan bulan itu belum bisa diberi penjelasan tentang istilah-istilah medis. Ya gimana sih menjelaskan makhluk hidup yang tak kelihatan wujudnya dan abstrak pada balita itu. Jadinya ya harus dengan penjelasan yang ringkas dan jelas.

Tentu saja di sinilah tantangannya. Saya jadi harus belajar banyak soal virus yang sudah banyak memakan korban jiwa itu. Mencoba memilah berita yang benar dan bukan hoax, diskusi dengan suami, serta mengolah kata-kata bagaimana supaya informasi soal corona ini bisa sampai diterima Akmal dengan sederhana.

Akhirnya saya ketemu sama akunnya mba Watiek Ideo di Instagram. Beliau seorang penulis cerita anak yang sudah menerbitkan puluhan buku.

Nah, di akun pribadinya, mba Watiek mengunggah karya tulisannya soal virus corona dengan gaya bahasa yang ringkas dan sederhana. Beliau juga berkolaborasi dengan seorang ilustrator, Luluk Nailufar untuk melengkapi gambaran dari tulisan soal corona tersebut.

Melihat ilustrasi gambarnya saja Akmal langsung senang. Mungkin gambarnya yang lucu dan menggemaskan ya. Selain itu colourfull! Penting banget sih buku warna-warni untuk balita supaya mereka nggak bosan.

Pada saat pertama kali mbak Watiek Ideo mengunggah karyanya, saya langsung minta file pdfnya dan mencetakkannya untuk Akmal. Ya modal print sama kertas hvs aja hehehe.

Lalu terjadilah percakapan antara saya dan Akmal soal covid19 ini:

Bunda: Akmal, sekarang kita nggak boleh ya banyak-banyak main ke luar rumah. Kita mainnya di rumah aja. Nggak boleh main ke taman dulu ya.

Akmal: Kenapa, nda?

Bunda: Soalnya di luar rumah sedang banyak virus corona.

Akmal: Virus corona itu apa, nda?

Bunda: Virus corona itu makhluk hidup yang bikin orang-orang sakit, Mal. Virusnya itu suka bikin orang jadi batuk, pilek, sesak napas!

Akmal: Hahahaha (eh dia malah ketawa ngakak saat saya memeragakan adegan sesak napas)

Bunda: Nah virus corona itu sukanya dekat-dekat sama orang yang malas cuci tangan, Mal. Suka dekat-dekat sama yang malas mandi, nggak mau makan sayur atau buah.

Akmal: Ini kakaknya ke dokter ya, nda? (sambil nunjuk gambar yang ada dokter dan seorang anak sedang dirawat di rumah sakit)

Bunda: Iya, Mal ini kakaknya sudah kena virus corona. Huhuhu kasihan ya. Tuh, kalau kena virus corona harus dirawat sama Pak Dokter di rumah sakit. Trus bundanya sama ayahnya nggak boleh masuk kamar. Tuh harus nunggu di luar Mal. Huhu sedih ya, Mal.

Akmal: Oh, gitu ya nda…

Bunda: Jadi kita tetap harus di rumah ya Mal. Trus kita harus makan yang bergizi, Mal. Makan sayur, buah, daging, ayam, tempe, juga minum susu. Biar virus coronanya nggak mau dekat-dekat. Kalau kita sehat insya Allah virusnya nggak mau nempel, Mal. Trus kita juga rajin berjemur ya, Mal. Biar apa Mal?

Akmal: Biar sehat, ya Nda?

Bunda: Betuuuulll…pinter anak bunnda Masya Allah (lalu kasih kecupan biar doi seneng hehe).

Pada awalnya Akmal terus menerus bertanya kenapa kita harus diam di rumah saja. Maka saya pun berkali-kali menyampaikan cerita dari bukunya mba Watiek itu soal corona. Sampai Akmal ngerti kalau kita di rumah aja karena di luar sana banyak virus.

Tentu saja sesekali dia merajuk minta main ke taman atau ke rumah temannya. Mungkin dia rindu bermain di tempat yang suasananya berbeda. Ya bundanya juga sih hehe.

Semoga masa pandemi ini segera berakhir ya, Nak. Saat ini kita perlu bersabar dulu.

Nanti kalau wabahnya sudah pergi kita main-main lagi ke pantai, ke taman, ke perpustakaan, ke rumah teman-teman, atau melanjutkan rencana kita yang sempat tertunda, camping ke hutan ((calling si ayah hahaha)). Aamiin.

Kalau bunda-bunda gimana nih menjelaskan soal Covid-19 ke anak-anak?

 

Hal-hal yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Memutuskan Resign Kerja dan Jadi Full IRT

sebelum memutuskan resign

Beberapa teman (yang sudah jadi ibu-ibu) pernah bertanya bagaimana rasanya memutuskan resign  kerja dan jadi full IRT?

Biasanya saya tidak langsung menjawab dengan mengatakan ‘wah keren lah. buruan dah resign sekarang!’ atau pernyataan yang semacam mengglorifikasi bahwa menjadi full IRT itu lebih mulia lho dibandingkan dengan working mom. 

Tidak. Bukan juga bermaksud untuk membandingkan keduanya.

Tapi saya malah akan balik bertanya,

Kamu sudah yakin?

Sudah mempertimbangkan konsekuensinya dan lain-lain? 

Apa niatmu untuk resign?

Setelah resign sudah memiliki rencana apa dan bagaimana?

Alasan resign ibu-ibu juga beragam. Ada yang ingin resign karena nggak tahu harus nitipin anak sama siapa, ada yang karena anak membutuhkan perhatian khusus (special needs), ada yang karena mengikuti suami pindah ke luar kota, ada yang karena pusing drama ART dan berpengaruh pada pola pengasuhan anak atau ya memang karena sudah gemes aja sih sama atasan di kantor atau intrik-intrik kantor yang sudah mulai nggak sehat.

Baca juga ya: Alasan Saya Resign 

Pertanyaan-pertanyaan itu memang nggak bisa langsung dijawab dalam satu waktu. Saya aja butuh berhari-hari.

Beralih profesi dari wartawan menjadi pendidik di rumah butuh proses yang panjang (sekali) untuk bisa berdamai dan menerimanya dengan ikhlas. Dari yang kerjanya mobile seharian, bertemu dengan orang banyak lalu menjadi IRT yang full mengurus keluarga dan waktunya kebanyakan di rumah adalah suatu hal yang (pada awalnya sangat berat).

Baca juga ya: Jadi Wartawan Itu…

Itulah mengapa ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk resign dan memilih menjadi full IRT.

1. Luruskan Niat

Seperti yang saya bilang di atas, resign niatnya karena apa?

Kalau karena sudah penat sama drama dan intrik  di kantor tapi menutupi alasan itu dengan ‘ya karena ingin membersamai si anak, supaya bonding sama anak kuat’ mending bener-bener diluruskan lagi deh.

Artinya niat kita ya memang betul-betul karena ingin membersamai anak di rumah. SECARA SADAR PENUH.

Bukan alasan-alasan yang dibungkus dengan pembenaran dan sebagai pelarian. Hal ini kelak bisa memengaruhi pola pikir dan cara kita mengasuh anak.

Kita menyadari secara penuh bahwa membersamai anak di rumah beda jauh saat membersamai karyawan atau rekan kerja di kantor. Sehingga bisa mempersiapkan segala sesuatunya dengan lebih baik saat menjadi pendidik di rumah.

Saya pernah di awal resign menjalaninya dengan emosional. Bawaannya menyalahkan keadaan, pasangan bahkan anak, pokoknya nggrundel mulu isinya! Jadinya nggak menikmati menjalani peran stay at home mom. 

Bahkan saya sampai pernah ada di titik merasa tidak berharga hanya karena menyandang status sebagi full IRT yang di rumah saja.

Mungkin wajar ya masa transisi itu lha wong suasana dan problem yang dihadapi berbeda. Dari yang bangun tidur ketemu anak sampai mau tidur lagi. 24 jam selama tujuh hari urusannya mulek aja ngurusin, anak, rumah begitu terus sampe menjelang tidur.

Baca juga ya: Mengurus Rumah Tanpa ART

Nah, buibu yang mau resign dan memutuskan stay at home apakah sudah sanggup dengan konsekuensi itu? Mampukah mengelola emosi menghadapi situasi tersebut?

Coba deh ditulis dan dilist plus minus saat memutuskan resign:

  • Apa sih alasan kamu resign? Alasan kamu ingin menjadi pendidik di rumah?
  • Persiapan kamu menjadi pendidik di rumah apa saja?
  • Setelah resign mau apa? Mau bagaimana?
  • Apa pengaruhnya pilihanmu sama keluarga? Sama diri sendiri, orang tua dan teman?
  • Hal positif dan negatif kalau resign apa saja?

Dengan merinci tulisan di atas kita bisa fokus sama pilihan yang mau diambil dan merasa lebih mantap. Jadinya nanti bisa lebih rileks menjalani hari-hari pasca resign.

Kalau masih ragu? Ya saran saya sih tunda dulu deh sampai menemukan timing yang tepat. Jangan sampai emosional mengambil keputusan besar. Jangan lupa minta petunjuk dan mohon dibukakan jalan yang tepat sama Allah biar lebih tentrem aja begitu 🙂

2. Apa Kabar Kondisi Finansial?

Lha ini nih yang suka bikin pusing. Tadinya yang income dari dua pintu sekarang jadi cuman dari satu pintu. Harus menyesuaikan budget keluarga dan tentu saja pengaruh banget ke cash flow pemasukan keluarga.

Tentu ada penyesuaian di sana sini macam lifestyle yang standarnya jadi berubah banget! Tadinya yang bisa bebas beli skincare sepuluh step karena gaji sendiri dari kantor eh sekarang mah kudu ngempet nggak sepuluh step lagi lah ya haha.

Di awal-awal resign penyesuaian soal pendapatan yang hilang ini sempat mengganggu ego banget. Tetiba saya jadi merasa paling ‘miskin’ sedunia (sounds lebay yak).

Belum lagi ‘gengsi’ soal perasaan diberi dan meminta penghasilan dari suami. Makanya soal finansial keluarga nih penting banget diomongin sama pasangan.

Kira-kira udah punya cadangan tabungan darurat belum buat beberapa bulan bahkan tahun berikutnya?

Kalau udah resign kira-kira apa mau mencari pengganti pekerjaan lain yang bisa dikerjakan dari rumah?

Kalau mau jadi freelancer apa aja yang harus dipersiapkan?

Baca juga ya: Hal-hal Yang Wajib Dimiliki Seorang Freelancer

Apa yang bisa jadi pengganti pemasukan sebelumnya untuk menambah pendapatan?

Biaya apa nih yang perlu dikurangi ? Misalnya dulu tiap bulan bisa travelling ke luar kota sekarang mungkin bisa dikurangi jadi enam bulan sekali ?

Memang setidaknya harus siap menunda kepuasan saat ini untuk kepuasan di masa depan. Misalnya menunda staycation di hotel ternama di kotamu untuk biaya modal beli rumah tahun depan.

Siap nggak sama konsekuensi di atas?

3. Kegiatan Pasca Resign?

Kalau udah yakin resign dari kerjaan dan mau memulai ‘karir’ di rumah coba direncanakan ulang mau ngapain aja di rumah. Penting banget sih punya goals meski itu tampak sederhana.

Misalnya membuat mainan edukatif untuk anak seminggu 3 kali. Atau membacakan buku anak setiap malam dan targetnya anak bisa menceritakan ulang. Atau punya program hafalan Al-Qur’an buat anak setiap habis magrib.

Target untuk diri sendiri juga penting.

Misalnya bisa membuat resep kue baru, membuat konten video di Youtube atau tulisan di blog seminggu 2 kali, atau merapikan halaman depan rumah dan menanam tanaman baru, membuat baju untuk anak, suami atau diri sendiri, atau bahkan mau merintis bisnis rumahan? Gooo ahead buibu!

Yang terpenting kita harus pandai-pandai mengapresiasi diri sendiri. Karena di rumah nggak ada yang namanya atasan, bawahan, nggak ada apresiasi reward macam di kantor. Jadi ya syukuri setiap pencapaian meski sekecil apapun.

Baca juga ya: Menjadi IRT dan Krisis Kepercayaan Diri

Berterimakasih pada diri sendiri karena sudah terus berjuang sampai di titik ini 🙂

4. Nggak Usah Membandingkan Hidup Kita Sama Punya Orang Lain!

Ini harus dicatat dan ditulis kapital lalu ditempel di dinding kamar (ngomong ke diri sendiri) hehe. Ya memang ini terdengar klise but it works. 

Kalau masih aja galau resign atau bahkan sudah resign lalu merasa menyesal, bisa jadi sih karena kita terlalu membandingkan kehidupan diri sendiri sama orang lain. Terlebih sekarang kehadiran media sosial semakin membuat kita ‘silau’ sama kisah orang-orang di luar sana yang tampak sempurna. Fokus aja deh sama potensi dan skill yang kita miliki. Asah terus radar kebersyukuran kita terhadap apa yang kita punya sekarang.

Jadi, kalau saya sih sementara mute atau jauhi dulu deh orang-orang yang rese nanya, “Kok resign sih mbak..sayang banget dong ijazahnya?” , “Trus ngapain di rumah nanti? Enak dong leha-leha ya,”. Maaf aja orang begini saya coret dulu sementara dari pertemanan hehehehe. Saya nggak mau hormon kortisol saya berlebih gegara orang-orang macam begini.

Tapi kalau kita bisa merespon komentar-komentar pedas itu sebagai pelecut agar bisa tetap berkarya dan produktif ya nggak masalah. Tiap orang punya respon dan mindset yang beda-beda kan.

5. Asah Skill dan Potensi Diri

Meski sekarang ‘ngantor’ di rumah bukan berarti kita diem-diem bae lho. Belajar, berkembang dan berproses menjadi diri yang lebih baik itu harus terus diasah. Kalau saya tetap meluangkan waktu untuk belajar dan terus mengasah skill yang kita punya.

Misal, meluangkan baca buku minimal satu buku satu bulan. Bergabunglah di komunitas yang kita minati. Ikutan kursus yang dulu saat kerja di perusahaan nggak sempat keambil? Bebaaas! Atau ikutan kuliah Whatsapp dengan tema yang kita sukai, rutin ikut kajian keagamaan untuk merawat kesehatan rohani atau kalau nggak sempat ya bisa belajar dari Youtube or Podcast.

Intinya sih kalau mau resign, resign lah dengan planning yang baik. Jangan asal karena emosi sesaat aja. Supaya pasca resign kita menjalaninya dengan tentram.

Apakah masih galau setelah baca tulisan ini? Tenang, tenang buibu semua akan resign pada waktunya kok. *Eeeeehhhh gimana gimana hahaha.

 

 

 

 

 

Mengenal Islamic Montessori [Review Buku]

Saya mendengar istilah metode Montessori sejak Akmal umur 10 atau 11 bulan. Waktu itu Akmal mulai aktif-aktifnya kesana ke mari dan rasa keingintahuannya sangat besar.

Bundanya sering kehabisan ide mau ngajak main apa lagi yang mengandung unsur edukasi. Lalu mencoba browsing sana sini lewat media sosial dan menemukan banyak bertebaran tagar Montessori di rumah.

Saya pun kepo-kepo apa sih Montessori ini. Oh, ternyata metode pengasuhan anak yang digagas sama Maria Montessori, si foundernya yang seorang dokter juga pengamat pendidikan. Lebih lengkapnya browsing sendiri aja ya haha.

Dan menurut saya oke juga kalau diterapkan ke Akmal. Saya memang belum sampai taraf serius yang ikut coursenya atau bahkan kuliah khusus metode Montessori. Karena pas tahu harganya bikin saya menangis di pojokan kamar #lebay. Ya nanti deh kalau ada rezeki lebih saya pengen banget bisa belajar serius metode ini.

Ada beberapa poin yang bikin saya kepincut sama metode ini.

Misalnya poin tentang Follow the Child. Kita sebagai orangtua kerapkali memaksa keinginan kita (saya aja kali ya hehe) ke anak. Kamu tuh harusnya begini nggak gitu, kamu baiknya baca buku ini bukan itu, dst…dst. Selain kecewa karena anak nggak tertarik untuk melakukan apa yang kita mau, berpengaruh juga kan sama psikis mereka.

Baca juga dong : Mengenalkan Buku Sejak Bayi 

Untuk itu Montessori mencoba melakukan observasi dan mencoba menelaah apa sih sebetulnya yang menjadi ketertarikan dan kesukaan anak.

Misalnya ni maksa anak main playdough tapi ternyata panci dan perkakas dapur lainnya lebih menarik buatnya. Yaudah kasih ajalah itu buat mainan mereka. Mungkin dia anggap itu perkakas dapur adalah alat musik untuk menciptakan mahakaryanya, toh hitung-hitung mengasah kreativitasnya.

Tapi ya nggak serta merta mengikuti semua keinginan anak. Tentu saja tetap ada batasan-batasan yang harus anak ikuti sesuai dengan prinsip dan norma yang dipegang oleh keluarga. Namun bukan juga melarang anak melakukan ini dan itu.

Intinya sih kita harus memberikan ruang bagi anak untuk memilih. Kegiatan apa yang ia ingin lakukan? Media bermain mana yang ingin ia eksplorasi? Kita harus meyakini bahwa apa yang ia pilih memang yang sedang dibutuhkannya saat itu.

Selain itu metode Montessori juga mengembangkan lima aspek dalam pendekatan pendidikan ke anak-anak.

Yakni, aspek practical life, sensorial, language, mathematicsdan culture.

Sebenarnya mengembangkan kelima aspek ini bagus untuk tumbuh kembang anak-anak tapi saya merasa seperti ada yang kurang. Sedari awal sih saya merasa kalau metode ini ‘kering’ sama hal-hal berbau spiritual, ya mungkin karena pengaruh foundernya dari Barat sana sih.

Hingga saya menemukan sebuah akun di Instagram namanya @islamicmontessori_ sebuah komunitas Indonesia Islamic Montessori Community (IIMC) yang diprakarsai oleh Zahra Zahira. Oh, ternyata ada toh komunitas yang concern pada metode Montessori tapi berbasis Islam. Semakin excited saat Ms Zahra membuat buku berjudul Islamic Montessori.

Isi Buku Islamic Montessori

Buku terbitan anakkita ini terbagi menjadi dua seri, yakni yang diperuntukkan buat anak usia 0-3 tahun dan untuk usia 3-6 tahun. Mengingat Akmal saat ini masih 23 bulan jadi saya beli yang untuk usia 0-3 tahun dulu.

Di buku ini dijelaskan kembali soal Filososfi Montessori yang sesungguhnya serta cara Ms Zahra menggabungkan nilai-nilai Islami dalam metode Montessori. Ada 10 filosofi Montessori yang diingatkan kembali dalam buku ini, seperti:

  1. Absorbent Mind: Tahapan di mana anak-anak mudah sekali menyerap informasi dari mana saja. Anak-anak menyerap informasi di lingkungan sekitar melalui pancaindra, penyerapan bahasa, pengembangan motorik, kognitif dan kemampuan sosial. Maka sudah seharusnya sebagai orangtua memberikan teladan yang baik, yang sesuai nilai-nilai Islam agar membentuk akhlak yang baik.
  2. Sensitive Periods : Tahapan di mana anak menunjukkan ketertarikan yang kuat terhadap benda atau aktivitas tertentu. Misalnya, Akmal lagi suka banget sama yang namanya hewan kuda. Di manapun ada suara gemerincing dia teriak kegirangan menyebut Kuda! Kuda! padahal ternyata yang lewat becak. Nah, dari sini kita bisa sisipkan bahwa hewan tersebut ciptaan Allah lho. Kita sebut-sebut keagungan dan kehebatan Allah dalam penciptaan macam-macam hewan termasuk kuda.
  3. Prepared Environment : Kita bisa menyiapkan lingkungan yang kondusif untuk pembelajaran anak-anak. Misalnya menyiapkan rak mainan atau buku yang sesuai tinggi badannya. Agar terbiasa mandiri mengambil material kegiatan yang telah disiapkan.
  4. Follow the Child: Seperti yang saya ungkap sebelumnya, Follow the child berarti memberikan kesempatan anak untuk melakukan apa yang dia mau dan butuhkan, sehingga akan menumbuhkan rasa percaya dirinya. Tentu dengan memerhatikan nilai-nilai yang dianut dan tidak sebebas-bebasnya juga.
  5. Individual Differences: Setiap anak itu unik dan istimewa. Dalam metode ini menyediakan pendidikan yang mengakomodasi anak-anak sesuai dengan keminatan mereka masing-masing.
  6. Concrete to Abstract : Anak usia 0-6 tahun lebih mudah menerima informasi yang konkret baru abstrak. Misalnya mengenalkan buah rambutan, berikan saja wujud aslinya lalu jelaskan teksturnya, baunya, rasanya.
  7. Hands-on Learning : Anak belajar melalui seluruh inderanya. Anak belajar menyentuh apa pun dan merasakannya sendiri.
  8. Control of Errors: Lingkungan dan material yang disetting dengan konsep Montessori memiliki kontrol kesalahan sehingga anak dapat menemukan cara dalam memecahkan masalah tanpa intervensi orang dewasa.
  9. Freedom with Limits: Ini mirip Follow the Child sih menurut saya. Anak boleh melakukan apa yang dia mau, bebas eksplorasi tetapi dengan batasan-batasan tertentu. Jika membahayakan dirinya ya harus dilarang dan diberitahu.
  10. Respect the Child : Kita sering menganggap anak-anak itu makhluk yang nggak ngerti apa-apa, jadi kerapkali meremehkannya. Padahal sebenernya mereka ya hanya beda ukuran tubuh kok sama orang dewasa. Mereka juga berhak dihargai dan dipercaya. Kalau saya pikir-pikir lagi ini tuh selaras lho sama ajaran teladan Rasulullah yang sangat menghargai anak kecil. Menganggap mereka, mendengarkan mereka bahkan memberikan anak-anak pilihan-pilihan.

Bedanya Montessori dengan Islamic Montessori?

Kalau yang saya tangkap dari buku ini, penerapan filosofi dan material antara Montessori dengan Islamic Montessori ya sama saja.

Yang membedakan adalah ada penambahan nilai-nilai Islami yang ditanamkan dalam konsep Islamic Monetssori. Penulis menambahkan aspek spiritual dalam metode Montessori. Sehingga dalam praktiknya anak diajak untuk tidak lupa hubungan dengan Allah.

Misalnya, untuk melatih aspek practical life dalam memulai segala sesuatu bisa menanamkan pada anak untuk selalu mengawalinya dengan bacaan Basmallah. Mau menyapu baca basmallah, mau memakai baju baca basmallah, dst.

Baca juga dong: Mengenalkan Anak ke Masjid 

Dilengkapi Contoh Aktivitas Montessori Sesuai Usia Anak

Buku yang diterbitkan fullcolour ini juga dilengkapi contoh-contoh aktivitas dengan metode Montessori. Tentu disesuaikan dengan usia anak. Dan juga ada beberapa contoh aktivitas Islamic Studies. 

Contohnya, mendengarkan kisah-kisah nabi, membacakan Al-Quran, mengenalkan alam semesta lewat gambar, dll. Yang saya suka contoh-contoh kegiatannya mudah banget diterapkan di rumah. Nggak perlu bingung mau beli mainan ini itu karena beberapa contohnya bisa pakai benda-benda yang ada di rumah.

buku islamic montessori

Hanya saja ((menurut saya lho ya)) aktivitas Islamic Studies yang dicontohkan kalah banyak sama contoh aktivitas lain yang menonjolkan motorik, kognitif serta sensoris. Jadi kita improvisasi sendiri kali ya. Gapapa lah ya itung-itung mengasah kreativitas ibunya buat cari ide aktivitas lain.

review buku islamic montessori

Intinya, saya suka sih sama buku ini. Lumayan sebagai referensi dan panduan untuk merancang aktivitas yang seru buat anak. Tanpa melupakan nilai-nilai Islami yang ingin kita ajarkan ke anak.

Buibu sudah baca buku ini belum?

 

Mengurai Keruwetan Berpikir dengan Self Healing

Akhir tahun lalu ditutup dengan kesadaran penuh untuk mengenal diri sendiri. Saya akhirnya mendapat kesempatan ikut kelas terapi self-healing yang diadakan oleh Malang Family Project (sebuah project event yang saya dan teman-teman lakukan) bersama seorang psikolog, Galuh Andina.

Ngapain sih ikutan self-healing segala?

Setiap dari kita pasti memiliki masalahnya masing-masing. Dalam hidup setiap episodenya pasti pernah merasakan dikecewakan orang, dibohongi, dicaci maki, merasa kesepian, amarah yang tak kunjung usai, penyesalan-penyesalan yang tak berujung dan emosi-emosi negatif lainnya.

Emosi-emosi negatif yang tidak dikendalikan, dibiarkan dan diendapkan bertahun-tahun ini bisa jadi bom waktu dan meledak di permukaan kelak.

Saya pernah mengalaminya. Saat pertama kali memiliki anak. Ada banyak hal di masa lalu yang (ternyata) belum terselesaikan dengan baik, yang belum saya ‘sembuhkan’ total.

Dampaknya?

Banyak sekali! Terutama bagaimana respon saya dalam menghadapi anak dan pasangan. Ketika anak melakukan sesuatu di luar ekspektasi, saya merespon dengan sikap amarah, membentak dan seketika berubah menjadi monstermom! Saya bahkan mengalami baby blues pasca melahirkan.

Baca: Baby Blues Pasti Berlalu

Padahal persoalannya sesepele menumpahkan air ke lantai atau kesandung meja makan yang menyebabkan dia jatuh. Saya malah berbalik mengomelinya. Saya merasa khawatir (berlebihan), kesal, sedih dan emosi negatif lainnya bercampur aduk menjadi satu.

Ternyata faktornya bukan hanya CAPEK tapi ada persoalan-persoalan di masa lalu yang belum terurai dengan baik, yang saya endapkan sekian lama dan tidak di manage dengan baik.

Nah, itulah pentingnya self-healing.

Self-healing berguna banget untuk menelaah kembali permasalahan yang belum usai di masa lalu. Mengurai keruwetan berpikir akan emosi dan memori masa lalu yang kita simpan jauh di alam bawah sadar. Ini menjadi salah satu cara untuk mengenali kebutuhan diri sendiri, memahami pikiran dan membereskan persoalan-persoalan dalam diri sendiri. 

Bagaimana memulai self-healing?

Ada beberapa tahap yang perlu dilakukan untuk keluar dari bayang-bayang luka batin masa lalu. Kata Mbak Galuh, self-healing membutuhkan proses yang nggak sebentar dan nggak sekali dua kali. Harus rutin dan berkali-kali. Boleh dibilang self-healing ini seperti muhasabah, evaluasi diri.

Dan masing-masing dari kita sebenarnya memiliki kekuatan untuk menyembuhkan diri sendiri. Persoalannya, mau atau tidak. Mau terus ‘berkubang’ dalam kelamnya masa lalu? Atau bangkit agar menjadi diri yang lebih baik? Ya pilihannya ada di kamu sendiri.

Nah tahap-tahap dalam kelas self-healing kemarin bisa juga diterapkan sendiri di rumah.

1. Menulis

Mbak Galuh mengawali kelas dengan berdoa dan mengajak peserta untuk jujur pada diri masing-masing akan masalah-masalah yang telah lama dipendam. Di sini kita diajak self-talk, ngomong ke diri sendiri selama ini apa sih yang kita inginkan dalam hidup? Apa yang membuat kita ‘sakit’ hati? Apa harapan-harapan selanjutnya? Nah semua ini ditulis di sebuah catatan kecil.

Pada sesi ini peserta diminta menulis serat-serat harapan mereka
  • Tulis sebanyak-banyaknya harapan-harapan yang kita mau, yang ingin dilakukan ke depan. Tanpa ada filter. Tulis aja semua.
  • Setelah itu baca ulang diantara harapan-harapan yang sudah ditulis tadi mana sih yang benar-benar ‘urgent’? Mana yang benar-benar itu dari hati? Bukan harapan-harapan karena sebab orang lain. Bukan karena tuntutan sosial. Tapi ya karena itu datang dari dirimu sendiri.

Baca: Jadi Blogger Modal Nulis Aja Enggak Cukup

Kemarin saya sempat nulis hampir 20an list harapan. Lalu saya pilih yang benar-benar itu butuh dan harus ‘segera’ dilaksanakan. Misalnya, menjaga hubungan dan silaturrahmi dengan orang tua. Agar lebih santai, harmonis dan tidak berjarak. 

Asli sih saya sempat berkaca-kaca nulis ini. Diantara harapan-harapan yang sifatnya duniawi, Mbak Galuh mengingatkan saya kembali bahwa keinginan manusia yang banyak sekali itu, kadang-kadang ada hal yang terlupa yang justru itulah pembuat jalan kesuksesan. Yakni ridho orang tua. Saya malah nulis harapan soal orang tua itu di list agak akhir. Sedih kan astagfirullah hal ‘adzim 🙁

Menulis ini tujuannya untuk mengurai mana sih yang benar-benar penting? Mana harapan yang kudu segera diwujudkan? Dan bentuk refleksi diri agar tidak terlalu stress saat apa yang kita inginkan belum tercapai.

Kadang-kadang apa yang ingin kita capai, harapan yang belum kesampaian, bisa jadi karena itu kesalahan pribadi kita. Misalnya berbuat salah pada orang tua. Jadi evaluasi dan perbaiki kesalahan-kesalahan kita. -Galuh Andina, psikolog-

Oya menulis ini bisa dilakukan rutin di catatan pribadi. Bisa menulis gratitude journal, menulis ekspresif apa yang dirasakan saat itu, menulis apa pun lah. Saya lagi rutin nih nulis gratitude journal dan hasilnya memang ngaruh. Saya jadi lebih bisa mengontrol emosi, nggak terlalu banyak mengeluh dan lebih santuy! Hehe.

2. Self talk

Sesi ini cukup menguras air mata. Siap-siap tisu yang banyak lah hehe. Mbak Galuh mengajak para peserta untuk berdialog dengan diri sendiri. Jujur pada diri sendiri, mendengar suara batin kita sendiri. ‘Memanggil’ memori yang lalu dan ‘menyuntikkan’ kata-kata yang membangkitkan.

Pada sesi ini mbak Galuh meminta peserta berdiri saling berhadapan. Lalu salah satu dari kami ‘seolah-olah’ menjadi ayah/ibu/anak dari peserta lain dengan ‘meminjam’ suara mereka. Tentu saja dengan dipimpin mbak Galuh.

Misalnya jika kita pernah mengalami masalah yang berat dalam hidup, rasakan ‘sakitnya’, akui jika memang itu nggak enak sebab kan kadangkala tak mengapa bila kita tak baik-baik saja. 

Tapi tapi jangan kemudian terlalu larut. Ingat, kita punya Allah yang Maha Penolong. Minta aja sama Yang Maha Penolong. Dan menyugesti diri kalau kita bisa kok melewatinya. Habiskan jatah ujian dan jatah gagal kita!

Self-talk bisa dilakukan rutin setelah salat atau di saat sedang rileks.

3. Memaafkan bukan Melupakan

Tentu ada banyak hal yang membuat hati kita terluka. Entah karena inner child yang belum selesai, karena kesalahan diri sendiri, karena hal-hal yang di luar ekspektasi.

Caranya bukan melupakan tapi memafkan dan mengikhlaskan. Kata Mbak Galuh semakin kita berusaha melupakan maka luka masa lalu itu akan semakin muncul ke permukaan dan bisa DHUAAARR.. meledak jadi emosi.

4. Move On!

Letakkan masa lalu pada tempatnya. Sebab mantan itu kan cukup dikenang, bukan buat diulang *eaaaa*

Melangkah ke sesuatu yang lebih baik bikin hidup lebih lega sih. Move on nggak mesti maju terus ke depan kok. Adakalanya perlu geser ke kanan dulu atau ke kiri. Yang penting diperbaiki.

5. Perbaiki Hubungan dengan Allah dan Orang tua

Dari awal sampai akhir sesi kelas hal ini yang paling ditekankan sama Mbak Galuh.

Lagi banyak masalah? Lagi suntuk?

Coba cek gimana hubungan kita sama Allah?

Apa kabar hubungan kita sama orang tua?

Jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk pada hal-hal duniawi sampai lupa pada mereka.

Seperti yang dikisahkan mbak Galuh, suatu kali bisnis onlinenya mengalami kemerosotan. Dia evaluasi mulai dari A – Z kayaknya semua sudah dilakukannya. Hingga suatu kali dia berinisiatif untuk meminta maaf pada ibunya. Nggak lama berselang beberapa hari kemudian, bisnis onlinenya kembali seperti semula. Semacam AHA JLEB moment ya.

Setelah ikutan kelas ini saya jadi lebih lega dan jadi lebih sayang sama diri sendiri, sama anak, pasangan dan memaafkan yang telah lalu. Plong dah rasanya! Next, mau sering-sering self-healing biar pikiran nggak ruwet-ruwet amat hehe.