Tuesday, October 19, 2021

Keluarga

Home Ceritaku Keluarga

Percakapan Bunda dan Akmal Tentang Covid-19

covid19

Sejak diumumkannya dua orang yang positif terkena virus covid-19, kami sekeluarga benar-benar membatasi diri untuk tidak banyak keluar rumah. Saya paling hanya ke tukang sayur keliling atau minimarket dekat rumah. Itupun seminggu sekali dan hanya sebentar saja.

Lalu bagaimana menjelaskan situasi dunia yang sedang berubah total saat ini pada Akmal?

Jujur, awalnya saya dan suami agak kesulitan menjelaskan soal virus covid-19 beserta dampaknya pada Akmal. Pasalnya, anak berusia dua tahun sembilan bulan itu belum bisa diberi penjelasan tentang istilah-istilah medis. Ya gimana sih menjelaskan makhluk hidup yang tak kelihatan wujudnya dan abstrak pada balita itu. Jadinya ya harus dengan penjelasan yang ringkas dan jelas.

Tentu saja di sinilah tantangannya. Saya jadi harus belajar banyak soal virus yang sudah banyak memakan korban jiwa itu. Mencoba memilah berita yang benar dan bukan hoax, diskusi dengan suami, serta mengolah kata-kata bagaimana supaya informasi soal corona ini bisa sampai diterima Akmal dengan sederhana.

Akhirnya saya ketemu sama akunnya mba Watiek Ideo di Instagram. Beliau seorang penulis cerita anak yang sudah menerbitkan puluhan buku.

Nah, di akun pribadinya, mba Watiek mengunggah karya tulisannya soal virus corona dengan gaya bahasa yang ringkas dan sederhana. Beliau juga berkolaborasi dengan seorang ilustrator, Luluk Nailufar untuk melengkapi gambaran dari tulisan soal corona tersebut.

Melihat ilustrasi gambarnya saja Akmal langsung senang. Mungkin gambarnya yang lucu dan menggemaskan ya. Selain itu colourfull! Penting banget sih buku warna-warni untuk balita supaya mereka nggak bosan.

Pada saat pertama kali mbak Watiek Ideo mengunggah karyanya, saya langsung minta file pdfnya dan mencetakkannya untuk Akmal. Ya modal print sama kertas hvs aja hehehe.

Lalu terjadilah percakapan antara saya dan Akmal soal covid19 ini:

Bunda: Akmal, sekarang kita nggak boleh ya banyak-banyak main ke luar rumah. Kita mainnya di rumah aja. Nggak boleh main ke taman dulu ya.

Akmal: Kenapa, nda?

Bunda: Soalnya di luar rumah sedang banyak virus corona.

Akmal: Virus corona itu apa, nda?

Bunda: Virus corona itu makhluk hidup yang bikin orang-orang sakit, Mal. Virusnya itu suka bikin orang jadi batuk, pilek, sesak napas!

Akmal: Hahahaha (eh dia malah ketawa ngakak saat saya memeragakan adegan sesak napas)

Bunda: Nah virus corona itu sukanya dekat-dekat sama orang yang malas cuci tangan, Mal. Suka dekat-dekat sama yang malas mandi, nggak mau makan sayur atau buah.

Akmal: Ini kakaknya ke dokter ya, nda? (sambil nunjuk gambar yang ada dokter dan seorang anak sedang dirawat di rumah sakit)

Bunda: Iya, Mal ini kakaknya sudah kena virus corona. Huhuhu kasihan ya. Tuh, kalau kena virus corona harus dirawat sama Pak Dokter di rumah sakit. Trus bundanya sama ayahnya nggak boleh masuk kamar. Tuh harus nunggu di luar Mal. Huhu sedih ya, Mal.

Akmal: Oh, gitu ya nda…

Bunda: Jadi kita tetap harus di rumah ya Mal. Trus kita harus makan yang bergizi, Mal. Makan sayur, buah, daging, ayam, tempe, juga minum susu. Biar virus coronanya nggak mau dekat-dekat. Kalau kita sehat insya Allah virusnya nggak mau nempel, Mal. Trus kita juga rajin berjemur ya, Mal. Biar apa Mal?

Akmal: Biar sehat, ya Nda?

Bunda: Betuuuulll…pinter anak bunnda Masya Allah (lalu kasih kecupan biar doi seneng hehe).

Pada awalnya Akmal terus menerus bertanya kenapa kita harus diam di rumah saja. Maka saya pun berkali-kali menyampaikan cerita dari bukunya mba Watiek itu soal corona. Sampai Akmal ngerti kalau kita di rumah aja karena di luar sana banyak virus.

Tentu saja sesekali dia merajuk minta main ke taman atau ke rumah temannya. Mungkin dia rindu bermain di tempat yang suasananya berbeda. Ya bundanya juga sih hehe.

Semoga masa pandemi ini segera berakhir ya, Nak. Saat ini kita perlu bersabar dulu.

Nanti kalau wabahnya sudah pergi kita main-main lagi ke pantai, ke taman, ke perpustakaan, ke rumah teman-teman, atau melanjutkan rencana kita yang sempat tertunda, camping ke hutan ((calling si ayah hahaha)). Aamiin.

Kalau bunda-bunda gimana nih menjelaskan soal Covid-19 ke anak-anak?

 

Mengenal Islamic Montessori [Review Buku]

Saya mendengar istilah metode Montessori sejak Akmal umur 10 atau 11 bulan. Waktu itu Akmal mulai aktif-aktifnya kesana ke mari dan rasa keingintahuannya sangat besar.

Bundanya sering kehabisan ide mau ngajak main apa lagi yang mengandung unsur edukasi. Lalu mencoba browsing sana sini lewat media sosial dan menemukan banyak bertebaran tagar Montessori di rumah.

Saya pun kepo-kepo apa sih Montessori ini. Oh, ternyata metode pengasuhan anak yang digagas sama Maria Montessori, si foundernya yang seorang dokter juga pengamat pendidikan. Lebih lengkapnya browsing sendiri aja ya haha.

Dan menurut saya oke juga kalau diterapkan ke Akmal. Saya memang belum sampai taraf serius yang ikut coursenya atau bahkan kuliah khusus metode Montessori. Karena pas tahu harganya bikin saya menangis di pojokan kamar #lebay. Ya nanti deh kalau ada rezeki lebih saya pengen banget bisa belajar serius metode ini.

Ada beberapa poin yang bikin saya kepincut sama metode ini.

Misalnya poin tentang Follow the Child. Kita sebagai orangtua kerapkali memaksa keinginan kita (saya aja kali ya hehe) ke anak. Kamu tuh harusnya begini nggak gitu, kamu baiknya baca buku ini bukan itu, dst…dst. Selain kecewa karena anak nggak tertarik untuk melakukan apa yang kita mau, berpengaruh juga kan sama psikis mereka.

Baca juga dong : Mengenalkan Buku Sejak Bayi 

Untuk itu Montessori mencoba melakukan observasi dan mencoba menelaah apa sih sebetulnya yang menjadi ketertarikan dan kesukaan anak.

Misalnya ni maksa anak main playdough tapi ternyata panci dan perkakas dapur lainnya lebih menarik buatnya. Yaudah kasih ajalah itu buat mainan mereka. Mungkin dia anggap itu perkakas dapur adalah alat musik untuk menciptakan mahakaryanya, toh hitung-hitung mengasah kreativitasnya.

Tapi ya nggak serta merta mengikuti semua keinginan anak. Tentu saja tetap ada batasan-batasan yang harus anak ikuti sesuai dengan prinsip dan norma yang dipegang oleh keluarga. Namun bukan juga melarang anak melakukan ini dan itu.

Intinya sih kita harus memberikan ruang bagi anak untuk memilih. Kegiatan apa yang ia ingin lakukan? Media bermain mana yang ingin ia eksplorasi? Kita harus meyakini bahwa apa yang ia pilih memang yang sedang dibutuhkannya saat itu.

Selain itu metode Montessori juga mengembangkan lima aspek dalam pendekatan pendidikan ke anak-anak.

Yakni, aspek practical life, sensorial, language, mathematicsdan culture.

Sebenarnya mengembangkan kelima aspek ini bagus untuk tumbuh kembang anak-anak tapi saya merasa seperti ada yang kurang. Sedari awal sih saya merasa kalau metode ini ‘kering’ sama hal-hal berbau spiritual, ya mungkin karena pengaruh foundernya dari Barat sana sih.

Hingga saya menemukan sebuah akun di Instagram namanya @islamicmontessori_ sebuah komunitas Indonesia Islamic Montessori Community (IIMC) yang diprakarsai oleh Zahra Zahira. Oh, ternyata ada toh komunitas yang concern pada metode Montessori tapi berbasis Islam. Semakin excited saat Ms Zahra membuat buku berjudul Islamic Montessori.

Isi Buku Islamic Montessori

Buku terbitan anakkita ini terbagi menjadi dua seri, yakni yang diperuntukkan buat anak usia 0-3 tahun dan untuk usia 3-6 tahun. Mengingat Akmal saat ini masih 23 bulan jadi saya beli yang untuk usia 0-3 tahun dulu.

Di buku ini dijelaskan kembali soal Filososfi Montessori yang sesungguhnya serta cara Ms Zahra menggabungkan nilai-nilai Islami dalam metode Montessori. Ada 10 filosofi Montessori yang diingatkan kembali dalam buku ini, seperti:

  1. Absorbent Mind: Tahapan di mana anak-anak mudah sekali menyerap informasi dari mana saja. Anak-anak menyerap informasi di lingkungan sekitar melalui pancaindra, penyerapan bahasa, pengembangan motorik, kognitif dan kemampuan sosial. Maka sudah seharusnya sebagai orangtua memberikan teladan yang baik, yang sesuai nilai-nilai Islam agar membentuk akhlak yang baik.
  2. Sensitive Periods : Tahapan di mana anak menunjukkan ketertarikan yang kuat terhadap benda atau aktivitas tertentu. Misalnya, Akmal lagi suka banget sama yang namanya hewan kuda. Di manapun ada suara gemerincing dia teriak kegirangan menyebut Kuda! Kuda! padahal ternyata yang lewat becak. Nah, dari sini kita bisa sisipkan bahwa hewan tersebut ciptaan Allah lho. Kita sebut-sebut keagungan dan kehebatan Allah dalam penciptaan macam-macam hewan termasuk kuda.
  3. Prepared Environment : Kita bisa menyiapkan lingkungan yang kondusif untuk pembelajaran anak-anak. Misalnya menyiapkan rak mainan atau buku yang sesuai tinggi badannya. Agar terbiasa mandiri mengambil material kegiatan yang telah disiapkan.
  4. Follow the Child: Seperti yang saya ungkap sebelumnya, Follow the child berarti memberikan kesempatan anak untuk melakukan apa yang dia mau dan butuhkan, sehingga akan menumbuhkan rasa percaya dirinya. Tentu dengan memerhatikan nilai-nilai yang dianut dan tidak sebebas-bebasnya juga.
  5. Individual Differences: Setiap anak itu unik dan istimewa. Dalam metode ini menyediakan pendidikan yang mengakomodasi anak-anak sesuai dengan keminatan mereka masing-masing.
  6. Concrete to Abstract : Anak usia 0-6 tahun lebih mudah menerima informasi yang konkret baru abstrak. Misalnya mengenalkan buah rambutan, berikan saja wujud aslinya lalu jelaskan teksturnya, baunya, rasanya.
  7. Hands-on Learning : Anak belajar melalui seluruh inderanya. Anak belajar menyentuh apa pun dan merasakannya sendiri.
  8. Control of Errors: Lingkungan dan material yang disetting dengan konsep Montessori memiliki kontrol kesalahan sehingga anak dapat menemukan cara dalam memecahkan masalah tanpa intervensi orang dewasa.
  9. Freedom with Limits: Ini mirip Follow the Child sih menurut saya. Anak boleh melakukan apa yang dia mau, bebas eksplorasi tetapi dengan batasan-batasan tertentu. Jika membahayakan dirinya ya harus dilarang dan diberitahu.
  10. Respect the Child : Kita sering menganggap anak-anak itu makhluk yang nggak ngerti apa-apa, jadi kerapkali meremehkannya. Padahal sebenernya mereka ya hanya beda ukuran tubuh kok sama orang dewasa. Mereka juga berhak dihargai dan dipercaya. Kalau saya pikir-pikir lagi ini tuh selaras lho sama ajaran teladan Rasulullah yang sangat menghargai anak kecil. Menganggap mereka, mendengarkan mereka bahkan memberikan anak-anak pilihan-pilihan.

Bedanya Montessori dengan Islamic Montessori?

Kalau yang saya tangkap dari buku ini, penerapan filosofi dan material antara Montessori dengan Islamic Montessori ya sama saja.

Yang membedakan adalah ada penambahan nilai-nilai Islami yang ditanamkan dalam konsep Islamic Monetssori. Penulis menambahkan aspek spiritual dalam metode Montessori. Sehingga dalam praktiknya anak diajak untuk tidak lupa hubungan dengan Allah.

Misalnya, untuk melatih aspek practical life dalam memulai segala sesuatu bisa menanamkan pada anak untuk selalu mengawalinya dengan bacaan Basmallah. Mau menyapu baca basmallah, mau memakai baju baca basmallah, dst.

Baca juga dong: Mengenalkan Anak ke Masjid 

Dilengkapi Contoh Aktivitas Montessori Sesuai Usia Anak

Buku yang diterbitkan fullcolour ini juga dilengkapi contoh-contoh aktivitas dengan metode Montessori. Tentu disesuaikan dengan usia anak. Dan juga ada beberapa contoh aktivitas Islamic Studies. 

Contohnya, mendengarkan kisah-kisah nabi, membacakan Al-Quran, mengenalkan alam semesta lewat gambar, dll. Yang saya suka contoh-contoh kegiatannya mudah banget diterapkan di rumah. Nggak perlu bingung mau beli mainan ini itu karena beberapa contohnya bisa pakai benda-benda yang ada di rumah.

buku islamic montessori

Hanya saja ((menurut saya lho ya)) aktivitas Islamic Studies yang dicontohkan kalah banyak sama contoh aktivitas lain yang menonjolkan motorik, kognitif serta sensoris. Jadi kita improvisasi sendiri kali ya. Gapapa lah ya itung-itung mengasah kreativitas ibunya buat cari ide aktivitas lain.

review buku islamic montessori

Intinya, saya suka sih sama buku ini. Lumayan sebagai referensi dan panduan untuk merancang aktivitas yang seru buat anak. Tanpa melupakan nilai-nilai Islami yang ingin kita ajarkan ke anak.

Buibu sudah baca buku ini belum?

 

Rekomendasi Taman Bermain di Malang

Ada area terbuka hijau juga. Cocok buat main bola dan lari-larian hehe

Bagi seorang ibu yang kurang pandai membuat DIY mainan untuk anak (atau lebih tepatnya: mager), mengajak anak bermain outdoor adalah ide yang cukup masuk akal. Maka taman bermain adalah tempat favorit Akmal selain di halaman rumah.

Hampir setiap hari saya mengajak Akmal membebaskannya bermain di taman bermain entah yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari rumah atau yang menempuh jarak agak jauh. Selama nggak hujan saya ayok aja mengajaknya.

Dalam konteks di sini adalah taman bermain fasilitas publik yang disediakan oleh pemkot Malang ya. Bukan playground yang di mall-mall itu hehe.

Kenapa?

Ya karena tidak perlu merogoh kocek lebih hehehe. Cukup membayar parkir dua ribu rupiah, Akmal bisa puas senang-senang di taman dan isi dompet bunda juga aman haha. Bila mau lebih hemat , bawa bekal dari rumah, jadi ya nggak jajan lagi.

Sepakat banget soal: bahagia bisa datang dari hal-hal sederhana, asal kita nggak membanding-bandingkan standar bahagia kita dengan orang lain. 

Melihat Akmal bisa ketawa ngakak saat bermain ayunan bareng temennya di taman saja sudah membuat hati hangat. Bahkan saat masuk pintu taman Akmal sudah bersorak kegirangan,

“Ayook bundaa..itu main ayunan yok nda! Iiih…aku seneng”, membuat saya tersenyum simpul.

Dan senang sekali di Malang cukup banyak taman bermain yang konsepnya sangat ramah untuk keluarga. Berikut ini beberapa rekomendasi taman bermain di Malang langganan saya mengajak Akmal:

1. Taman Cerdas Trunojoyo

Lokasinya tepat bersebrangan dengan stasiun kota baru Malang. Dari rumah saya (daerah Sawojajar) jaraknya sekitar empat kilometer. Tidak terlalu jauh, sekiranya hanya 12 menit ke sini.

Taman ini dilengkapi beberapa permainan untuk anak, seperti perosotan, ayunan, jungkat jungkit, dan semacam jaring-jaring (apa ya namanya hehe).

banyak pohon rindang untuk berteduh
ada air mancur spot favorit anak-anak

Selain itu disediakan juga ruang baca di dekat pintu masuk. Buku-bukunya pun beragam, mulai dari komik, novel, buku cerita anak, politik, ada juga beberapa majalah dan koran.

Akmal suka sekali ngendon di pojok ini. Hampir semua buku minta dibacain haha. Saya biasanya baca korannya aja, lumayan buat update berita lokal maupun nasional. Selain itu tersedia wifi juga di sini. FREE haha.

ruang baca di Taman Trunojoyo

Sukanya dari taman Trunojoyo karena tempatnya teduh banget, Dipenuhi pohon-pohon yang rindang. Ada pula air mancur yang jadi tempat favorit anak-anak main air. Hanya saja air mancur ini nggak selalu menyala, jam-jam tertentu saja.

Kalau lagi dekat-dekat stasiun Malang mampir ke sini deh.

2. Alun-alun Kota Malang

Zaman kuliah dulu paling males banget ke tempat ini, meski ini salah satu yang iconic di Malang. Kotor, nggak tertata dengan rapi dan banyak banget yang pacaran..sebel aja hehe.

Fasilitas mainan di Alun-alun Malang

Eh sepuluh tahun kemudian setelah menikah dan punya anak, alun-alun Malang ini malah jadi taman kota favorit.

Taman kota yang bersebrangan sama Masjid Agung Jami’ ini menyediakan playground anak. Mainannya pun mirip seperti yang ada di mall-mall. Selain itu ada pula fasilitas olahraga buat ngegym. Penataannya pun jauh lebih rapi dan bersih dibanding sepuluh tahun lalu. Dan juga disediakan WIFI GRATIS (PENTING!) haha.

Bisa main sama burung merpati juga. Burung merpatinya disediakan sarang khusus.

Selain itu ada pula jogging track dan beberapa spot cantik untuk foto-foto hehehe.

Masuk ke sini mah nggak bayar. Paling hanya parkir aja.

Di sekitar alun-alun juga banyak kuliner legend di Malang yang wajib kamu cobain. Seperti es krim di Toko Oen, Rawon Nguling, Rumah Makan Inggil, Ronde Titoni, Putu Lanang, dan masih banyak lagi.

3. Merbabu Family Park

Lokasinya nggak terlalu jauh dari pusat kota. Taman yang berada di jalan Merbabu ini dekat banget sama Hutan Kota Malabar, Malang. Taman ini sebenarnya bentuk CSR pemkot Malang dengan PT Beiersdorf Indonesia. Makanya di setiap sudut ada plang bertuliskan “NIVEA Cares for Family”.

Meski luasnya nggak seluas taman Trunojoyo atau Alun-alun Malang tapi Merbabu Family Park ini cukup asyik buat tempat bermain anak-anak. Dilengkapi berbagai fasilitas seperti beberapa mainan anak, lapangan mini futsal, fasilitas untuk ngegym dan tentu saja FREE WIFI.

Cuman sayangnya sih beberapa mainan di sini kurang terawat. Meski tempatnya sejuk dan nyaman buat berteduh, beberapa mainan anak-anak sudah mulai karatan.

Sama seperti dua taman sebelumnya, Merbabu Family Park masuknya nggak bayar. Cuman bayar parkir aja.

4. Kebun Bibit Mojolangu

Taman yang jaraknya sembilan kilometer dari rumah ini lokasinya di Jalan Ikan Tombro, Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Memang sih agak jauh dari taman-taman yang disebutkan di atas. Ke sini membutuhkan jarak sekitar sembilan kilometer dari rumah.

Lokasinya ada di dalam pemukiman warga. Cuman di sini mainan anak-anaknya nggak seberapa banyak. Hanya ada dua ayunan dan perosotan yang hampir rusak hehehe.

Spot latihan skateboard

Oya pohon-pohonnya juga nggak seberapa banyak jadi kalau udah jam 10 ke atas panas banget. Tapi disediakan beberapa gazebo. Sambil makan bekal dari rumah ngadem di gazebo deh.

Akmal suka ke sini karena ada arena skateboardnya. Dia seneng banget melihat kakak-kakak latihan skate dan sepeda BMX. Lapangannya juga luas, jadi selalu bawa bola ke sini. Puas lari-larian dan main bola.

5. Taman Jajan Al Fatih

Berbeda dengan taman-taman yang disebutkan sebelumnya, Taman Jajan Al Fatih ini pakai tiket masuk kalau mau main.

Pas weekday biayanya 15 ribu rupiah, sementara pas weekend dikenakan 20 ribu rupiah. Tiket ini terbilang murah sih dibanding playgorund yang ada di mall. Tiket segitu bisa dipakai sepuasnya, sampe anaknya capek dan bosen hehe.

Taman Jajan Al Fatih memiliki dua tempat. Yang pertama di jalan Maninjau Raya No.169 dan yang satunya di jalan Melati No.10.

Saya sih paling sering mengajak Akmal yang di jalan Maninjau Raya No.169 karena ke sana cuman lima menit dari rumah hahaha.

Taman ini konsepnya mirip playground yang ada di mall. Ada pujaseranya juga. Di sini tersedia tiga jenis arena bermain. Ada kolam pancing ikan, mainan pengasah motorik halus macam balok, puzzle, lego dan sejenisnya, lalu ada lagi mainan yang mengasah motorik kasar yakni prosotan dan mini panjat tebing.

beberapa gerai makanan yang tersedia di taman jajan Al Fatih

Di taman ini juga bisa disewakan untuk mengadakan event-event lho. Mulai workshop, talkshow atau macam bebikinan begitu. Komplit!

Oya bukanya mulai dari jam 08.00-22.00 WIB. Kalau dekat-dekat sini mampir dong! Hehe. Pas banget ngajak keluarga nongkrong di sini. Murah meriah hehehe.

Kalau bunda-bunda dari sekian taman yang saya sebutkan sudah pernah ke mana aja nih?

 

Keseruan Menyelamatkan Kota Hingga Terumbu Karang di Bebeland

Suatu hari Akmal saya ajak jalan-jalan sore sekitar komplek rumah. Lalu di tengah perjalanan kami menemukan botol susu yang dibuang sembarangan di sisi badan trotoar.

“Ini apa nda?”

“Itu botol susu, nak. Ada yang buang sembarangan,” saya menjawab sekenanya bahkan memintanya untuk kembali melanjutkan perjalanan kami.

Tapi tiba-tiba Akmal kembali ke botol susu tadi, memungutnya dan berjalan mencari tempat sampah, lalu membuangnya.

“Ini dibuang sini ya nda,”

Masya Allah. DEG! Saya langsung merasa tertampar. Saya yang tadinya bodo amat sama botol susu yang tergeletak di pinggir jalan itu langsung merasa malu, diingatkan lewat anak saya sendiri. Sebuah aksi kecil yang membuat saya melihat ke belakang akan nasihat yang pernah saya lontarkan padanya, “Kalau habis minum susu kotaknya dibuang ke tempat sampah ya,” sambil saya tunjukkan tempat sampah di dapur. Rupanya Akmal merekamnya dengan baik.

Saya jadi merenung bahwa untuk tumbuh seimbang, menjadi cerdas saja itu nggak cukup ya. Tapi rasa peduli, empati, emosi , sosial dan spiritual anak juga perlu terus diasah. Salah satunya ya melalui contoh-contoh kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Roslina Verauli, psikolog anak mengungkapkan bahwa dengan empati dan rasa peduli, si kecil mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain. “Dengan mengembangkan rasa peduli, si kecil mampu memiliki perilaku prososial, yaitu perilaku membantu orang lain tanpa pamrih. Hal inilah yang perlu diasah sejak dini seiring dengan kemampuan daya pikir si kecil, agar si kecil mampu menyikapi sebuah permasalahan serta memberikan solusi yang tepat dan penuh empati,” tuturnya.

Mengasah aspek sosial, spiritual dan emosional anak bisa juga melalui permainan yang seru.

Senang sekali kemarin bisa mengajak Akmal bermain di wahana edukatif dan interaktif di Bebeland Surabaya. Sebuah arena bermain yang memiliki 10 wahana permainan edukasi dalam 3 area besar, yaitu BebeTown, BebeSea, dan BebeForest.

Setiap permainan di Bebeland dirancang dengan alur cerita “masalah – solusi”, dimana si kecil dilatih untuk mengasah rasa pedulinya terlebih dahulu, sebelum kemudian diajak melatih daya pikirnya untuk cepat tanggap memberi solusi yang berguna bagi sekitarnya. Dan semua permainan di Bebeland sudah direkomendasikan oleh Roslina Verauli, psikolog anak profesional.

Misalnya seperti permainan Light The City.

Di permainan ini ceritanya sebuah kota sedang mati listrik. Lalu bagaimana agar bisa menyala kembali?

Akmal diberi tantangan mengayuh sepeda untuk menyalakan kembali listrik kota yang sedang padam. Awalnya dia bingung sih hehe, lalu diberi instruksi sama tim Bebelac sehingga Akmal mau mengikuti arahan. Dia senang sekali bisa bermain Light The City ini. Permainan ini ada di salah satu area BebeTown.

Fix The Gears

Masih di area BebeTown, di wahana ini Akmal diberi tantangan untuk menyusun gears agar jam kota yang rusak bisa digunakan kembali. Gears yang disediakan harus dipasang sesuai dengan ukurannya. kalau sudah dipasang semua nanti  jam kota kembali bisa diputar. Ditandai dengan burung yang keluar di atas jam. Di bagian ini Akmal sampai minta diulang dua kali, tapi ya kan harus gantian sama yang lain hehe.

Rescue The Cat

Ceritanya anak-anak diminta untuk menyelamatkan kucing yang terjebak di atas pohon. Ini wahana yang paling digemari anak-anak dan antriannya paling panjang haha. Anak-anak harus melewati rintangan wall climbing, menyelamatkan kucing di atas lalu turun ke bawah melalui prosotan. Seru banget!

Awalnya Akmal excited menunjuk-nunjuk wahana ini, tapi karena terlalu lama mengantri dia jadi bosan. Alhasil sampai di dalam dia hanya mau bermain di bawah, di bagian mandi bolanya hehe.

Coral Savior

Ini permainan yang paling disukai Akmal. Akmal dan teman-temannya diberi tahu terumbu karang di laut mulai berkurang keberadaannya. Mereka diajak untuk membantu melestarikan tumbuhan laut dengan penanaman kembali terumbu karang.

Selain menstimulus motorik halus, di permainan ini Akmal juga belajar peduli dan bagaimana bersosialisasi dengan teman-temannya. Misalnya, saat dia harus bergantian menggunakan sekop pasir atau saling bekerjasama menanam terumbu karang.

Find The Way

Di wahana ini Akmal diberi tantangan untuk menyelamatkan si kancil yang sedang tersesat. Caranya dengan mengikuti arah kancil melalui layar interaktif. Nanti anak-anak membantu si kancil mencari jalan pulang dengan memencet tombol kanan atau kiri. Tapi sepertinya ini permainan yang cocok untuk usia 3 tahun ke atas ya. Karena Akmal belum terlalu mengerti waktu main ini hehe.

Helping Friends

Kali ini Akmal harus menyelesaikan misi membantu anak yang sedang terdampar di sebuah pulau. Akmal menyelamatkan temannya dengan mengendarai perahu.

Preserve The Turtle

Anak-anak diajak untuk menyelamatkan penyu yang baru menetas tapi mengalami kesulitan untuk pergi ke laut. Mereka membuat kreasi penyu sesuai dengan imajinasi masing-masing, lalu hasil karyanya akan disambungkan dengan sebuah layar yang diibaratkan pelepasan penyu ke laut. 

Setiap kali selesai bermain di satu wahana, anak-anak diberi sebuah badge yang ditempel di rompi mereka. Ini merupakan bentuk apresiasi kepada mereka karena sudah menyelesaikan “misi” tersebut.

Untuk anak-anak di atas Akmal, kira-kira 5 tahun ke atas ada berbagai macam eksperimen sains yang dipandu oleh kakak-kakak dari Bebelac. Selain itu ada juga masak-memasak dan mendongeng dari kak Nitnit. Anak-anak antusias sekali mendengarkan dongeng yang lucu itu.

Lalu sorenya ada meet n greet bersama Nussa dan Rara. Sayang banget Akmal nggak ikut karena siangnya dia sudah mengantuk haha. Alhasil kami pulang duluan deh.

Secara keseluruhan seluruh permainan di Bebeland ini bagus banget untuk mengasah semua aspek pada anak, mulai dari kemampuan intelektual, sosial hingga emosional. Rasa peduli dan empati itu bisa mendukung daya pikir anak. Dan kita sebagai orangtua memang kudu kreatif ya memberikan stimulasi yang seimbang untuk aspek-aspek tersebut. Supaya kelak anak-anak kita tumbuh menjadi anak hebat yang tanggap, peduli dan mudah bersosialisasi.

So, tungguin kehadiran Bebeland selanjutnya di kotamu ya. Selanjutnya akan hadir kembali Plaza Medan Fair pada 26-27 Oktober 2019. Info lebih detailnya bisa kunjungi situs Bebelac ya di bebeclub.co.id

 

 

 

Akhirnya Menyapih Akmal!

30 Juni 2019, malam itu  saya dan suami mengajak Akmal untuk makan malam di luar. Salah satu warung pizza di Malang menjadi pilihan. Maunya sih dipaskan saat usia Akmal tepat dua tahun besoknya tapi ayahnya harus kerja ke luar kota. Ya hitung-hitung maksudnya sebagai perayaan kecil untuk Akmal. Hehe…

Selama makan itu kami membisikkan kata-kata semangat padanya bahwa usianya kini telah bertambah.

Alhamdulillah sekarang Akmal sudah dua tahun, ya. Sudah tambah pinter. Sudah bisa makan sendiri. Sudah bisa minum susu sendiri di gelas. Berarti sudah nggak nenen, ya. Sambil ngemil kentang goreng dia mengangguk-angguk seolah paham.

Malam itu saya berniat untuk mulai menyapihnya. Melatihnya tidak nenen yang biasa dilakukan sebagai pengantar tidur. Reaksinya? Tentu saja berontak, menangis kencang dan berteriak macam orang kesakitan.

Nenen..bundaaaa…mau nenen! Adalah kata-kata yang ia rapalkan hampir dua jam menjelang tidur.

Tidurnya gelisah, miring kanan, miring kiri. Glebak, glebuk seperti remaja yang sedang patah hati 🙁

Sesekali memaksa saya membuka baju agar segera menyusuinya. Hingga ia berada di puncak emosi, tangisnya pecah tak terbendung.

Saya tahan-tahan untuk tidak ikut terpancing emosi. Saya elus-elus punggungnya. Menggendongnya, menimang-nimang ke luar kamar. Sembari terus membisikkannya bahwa ini adalah masa dia sudah tidak nenen. 

Tapi hingga dua jam berlalu, malam semakin larut, Akmal belum juga bisa tidur. Nangisnya belum juga reda. Saya mulai lelah dan akhirnya…saya ikutan emosi. Akmal, ayo tidur! Suara saya mulai meninggi. Saya pelototin dia dan menurunkannya dari gendongan.

Untungnya suami saya segera paham. Dia sigap menggendong Akmal, menenangkannya sambil membacakannya ayat-ayat Al Qur’an. Perlahan, Akmal tidur dalam gendongan. Mungkin saking kelelahan.

Melihatnya tertidur saya seketika merasa sangat bersalah padanya.

Astagfirullah…ini kan baru malam pertama menyapih, kenapa saya sudah emosi? Maafkan bunda ya, nak.

Sembari diingatkan suami bahwa menyapih ini juga butuh proses. Wajar kan kalau rewel, lha wong dia hidup salah satunya ya dari nenen selama dua tahun ini. “Jangan emosi juga dong bun, sabar ya”. 

Sounding Sebelum Menyapih

Sebenarnya jauh-jauh hari saya sudah sounding ke Akmal kalau saat usianya sudah dua tahun artinya sudah tidak nenen lagi. Bahkan sudah saya lakukan sejak ia berusia 20 bulan. Karena saya dan suami sepakat tidak menggunakan cara dengan ‘menipu’.

Seperti mengolesi payudara dengan brotowali, balsem, atau beberapa cara yang membuat anak jadi emoh (secara tidak nyaman) untuk tidak menyusu lagi. Bahkan beberapa teman bilang bahwa HAMIL LAGI adalah cara paling ampuh menyapih anak dengan cepat. Karena dengan kehamilan (katanya), maka rasa ASI akan berubah menjadi tidak nikmat lagi, sehingga akan lebih cepat membuat anak berhenti menyusu.

Olalaaa kalau cara yang itu jelas saya tunda dulu. Hehehe…

Menyoundingnya jauh-jauh hari karena saya merasa sudah lelah menyusuinya di usia toddler begini. Jujur aja lho menyusui di usia balita entah kenapa terasa banget lebih capek.

Iya saya paham menyusui itu sebagai bentuk bonding antara ibu dan anak. Tapi setelah saya renungkan kembali kalau momen menyusui saja diwarnai dengan emosi ya di mana letak nilai bondingnya? 

Maka saya memutuskan untuk segera menyapihnya. Mungkin terdengar jahat ya karena terkesan ingin segera melepas ASI. Saya nggak mau momen menyusui jadi momen sekadar memberi ASI tanpa ada ikatan emosi.

Sounding semakin intens menjelang dua bulan sebelum masa sapih. Dan dua minggu sebelum usia Akmal dua tahun, soundingnya hampir setiap hari setiap saat.

Akmal, minggu depan sudah dua tahun lho. Kata Allah di Al Qur’an menyusu itu sampe dua tahun aja, ya. Akmal insya Allah bisa! Akmal pinter, ya. Kan sudah bisa minum dan makan sendiri. 

Karena dia belum paham konsep waktu, saya soundingnya sambil menunjukkan tanggalan di kalender. Sebenarnya saya dan suami juga masih bingung sih soal memberikan penjelasan penanda waktu ini. Adakah yang punya saran? Siapa tahu saya bisa belajar. Hehe. Sebab kami memilih tidak merayakan dengan tiup lilin dan potong kue. Yah, ini pilihan masing-masing keluarga ya.

Mengurangi Frekuensi Menyusui

Selama sounding berlangsung saya juga mengurangi frekuensi menyusu secara bertahap.

Jika pada awalnya Akmal boleh menyusu sesuka hati, nggak kenal waktu, maka sejak usia 20 bulan frekuensinya saya kurangi. Misalnya, pagi setelah mandi.

Biasanya dia udah minta nenen aja, tapi langsung saya alihkan ke makanan, mau roti, buah atau ya apalah yang ada di meja. Hehe. Begitu juga saat sore. Biasanya bisa satu sampe dua kali, saat masa sounding ini saya berusaha nggak menyusuinya. Pas malam aja menjelang dia tidur.

ajak main sampe capek biar lupa sama nenen haha

Saya pun nggak menawarinya kalau dia nggak minta. Jadi agar dia sedikit lupa ya ajak aja banyak main. Kalau saya buntu mau ngajak main apa di rumah, ya sudah ajak aja ke taman atau lapangan dekat rumah. Kalau sudah capek banget baru deh pulang, di rumah langsung tidur karena kelelahan. Hehe.

Menyiapkan Mental dan Bersikap Tega!

Sebelum benar-benar menyapih Akmal, saya tanya sana sini ke ibu-ibu yang lebih senior. Rata-rata menjawab: KUDU TEGA. Maksudnya, tidak mendramatisir proses menyapih. Sebagai yang punya ‘pabrik’ kita harus tegas kalau waktu sapih sudah tiba.

Jadi jangan sampai anak minta nenen hingga memelas kitanya jadi ikut luluh. Saya pun hari pertama begitu sih, merasa duh kasihan nih anak gelisah tidurnya.

Saya sudah bersiap memberikannya ASI saat tangisnya tidak juga reda dan emosi mulai menghampiri. Tapi kalau kita melanggar aturan nanti anaknya semacam punya celah untuk minta terus. Hehe. Jadi, ya dikuat-kuatin deh. Saya alihkan perhatiannya dengan mengelus-elus punggung, meninabobokan di dalam gendongan.

Sudah Tidak ASI, Tidurnya Gimana?

Itu adalah pertanyaan yang terus bermunculan semasa proses sounding. Akhirnya saya mengganti kebiasaan menyusu menjelang tidur dengan kegiatan membaca buku, mendongeng, main bongkar pasang bahkan senam dan lompat-lompatan. Sampai Akmal capek barulah dia benar-benar mau tidur.

salah satu ritual sebelum tidur: baca buku

Kadang kalau kami (saya dan suami) sudah sama-sama lelah kami biarkan Akmal main sendiri tapi di kamar dan ditinggal tidur duluan. Haha.. Ya gimana nungguin anaknya sampe malem masih aja on, sementara bunda ayahnya udah tinggal lima watt aja matanya.

Setelah lepas ASI, saya menggantinya dengan susu formula atau UHT. Jadi kini setiap malam selalu sedia susu atau air mineral di samping tempat tidur. Dan bersyukur sekali nafsu makan Akmal meningkat seiring lepas ASI. Dulu mah masuk lima suap aja sudah alhamdulillah, sekarang saya yang kegirangan karena dia minta makan sendiri tanpa disuruh.

Pentingnya Peran Ayah

Penting banget lah ini! Selama proses sounding dan sapih, suami juga berperan sekali. Saya sudah wanti-wanti ke suami jika saat proses sapih kami harus ‘tega’ dan siap.

Sebab menyapih tidak hanya menyiapkan mental anak tetapi juga bunda dan ayahnya. Supaya tidak ada drama, “Udahlah kasih aja (nenen) kasihan tuh dia nangis terus. Kok tega sih kamu”. Enggak dong jangan nanti nggak kelar-kelar hehe.

Saat malam pertama dan malam-malam berikutnya, suami lah yang bergantian menenangkan dan menggendong Akmal kalau dia rewel ingat nenen. Beberapa waktu terakhir ini juga Akmal mau tidur dikeloni ayahnya. Iya, saat masih menyusu ASI kan saya yang mengeloninya dan dia nggak mau tidur sama ayahnya haha.

Intinya sih selama proses menyapih, kita sebagai orangtua khususnya sang ibu juga harus menyiapkan diri dan mental. Proses menyapih bukan berarti melepas bonding sama anak tetapi mengganti bonding dengan cara yang berbeda. Semoga ceritanya bermanfaat ya 🙂

Semangat mengASIhi bunda-bunda 🙂