Inspirasiku

Belajar Asyik di Kampoeng Sinaoe

Kisahnya bermula pada 2006 silam. Selepas menamatkan kuliahnya Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang, Zamroni kembali ke kampung halamannya di Sidoarjo. Kala itu dia belum memiliki rencana aktivitas apa-apa. “Yang jelas saya bingung pulang kampung mau ngapain,” kata alumnus Sastra Inggris itu.

Suatu kali dia diminta memberi pelajaran bahasa Inggris kepada seorang anak tetangga yang kala itu masih duduk di bangku SMP. Tanpa pikir panjang, dia menyanggupi. Zamroni hanya berniat membantu saja. Bahkan, soal biaya belum kepikiran saat itu. Ruang tamu di rumah orang tuanya segera disulap menjadi bilik kelas alakadarnya.

Berbekal ilmu yang diperoleh semasa kuliah, papan tulis serta meja bekas, Zamroni mengajar murid pertamanya tanpa menuntut imbalan. Seiring waktu, jasa Zamroni memberi pelajaran bahasa Inggris terdengar para tetangga kanan-kiri. Dari hanya seorang murid, lambat laun jumlahnya terus bertambah. Bahkan anak-anak setingkat TK-SD mulai berdatangan minta dibimbing. Mereka pula yang meminta diajari materi-materi sekolah lainnya, bahkan kursus komputer.

Makin banyaknya calon murid yang datang membuat Zamroni gelagapan. Rumahnya tentu tidak sanggup menampung murid-murid yang ingin belajar. Dia pun meminta ijin ke salah seorang tetangga supaya ruang tamunya boleh dipinjam dan dijadikan ruang kelas. “Ternyata enggak hanya satu orang itu saja yang mau, yang lain malah menawarkan juga rumahnya untuk kelas,” kenang Zamroni.

Total, kini ada 17 kelas yang digunakan untuk kegiatan Kampoeng Sinaoe. Tujuh diantaranya memanfaatkan ruang tamu di rumah-rumah para tetangga. Bahkan, tetangga-tetangganya dengan senang hati menyediakan kamar inap bagi peserta yang datang dari luar Sidoarjo.

Bertambahnya murid mengharuskan Zamroni menambah tenaga pengajar. Sejumlah alumni Kampoeng Sinaoe dia undang untuk bergabung menjadi pendidik. “Mayoritas mereka anak-anak tidak mampu. Saya mendidik mereka agar mandiri dan bermanfaat buat masyarakat,” ujar pria yang selama berkuliah di Malang juga nyantri di Pondok Pesantren Miftahul Huda itu.

Tidak hanya menarik para alumni, Zamroni juga membuka lowongan bagi para volunteer asing yang ingin menjadi pengajar bahasa Inggris. Lowongan guru penutur asli itu dibuka setiap dua pekan sekali. “Kami promosi via website. Kadang-kadang lewat omongan teman,” ujar Ida, sang istri. Mereka yang pernah datang sebagai pengajar berasal dari berbagai negara seperti Australia, Inggris, Perancis, Amerika Serikat, dan lain lain.

Sejak awal Kampoeng Sinaoe dirancang sebagai sekolahan untuk semua kalangan, baik miskin maupun dari keluarga berduit. Zamroni dan Ida tidak menolak siapa pun yang bertandang dan ingin belajar. “Saya enggak narik biaya secara paksa. Sukarela. Ada yang hanya bayar Rp 10 ribu, Rp 20 ribu sebulan. Kalau tidak bisa bayar, ya, tidak masalah,” papar Zamroni.

Kewajiban membayar biaya belajar hanya diperuntukkan bagi murid-muridnya yang berasal dari kalangan keluarga menengah ke atas. “Istilahnya subsidi silang,” tegasnya.

Menjalankan sekolah secara sukarela tentu berisiko terhadap pendapatan yang dia peroleh. Zamroni mengaku kerap mengalami minus pemasukan karena harus mengongkosi kegiatan Kampoeng Sinaoe. “Tapi ya matematikanya Gusti Allah itu beda. Manusia sering lupa kalau sebenarnya Allah sang mahanya pemberi. Ya, alhamdulillah masih bisa buat menggaji guru-guru,” katanya lantas tersenyum.

Kini, jumlah murid di Kampoeng Sinaoe sudah mencapai lima ratusan orang, termasuk mereka yang sudah lulus. Menu yang ditawarkan pun tidak hanya materi pelajaran umum, tetapi juga pendidikan karakter. Sebagai jebolan pondok, dia ingin menyebarkan nilai-nilai yang didapatnya di pesantren, misalnya semangat berbagi ilmu.

Tidak cuma kepada murid-muridnya, pendidikan akhlak juga dia ajarkan kepada para pendidik di Kampoeng Sinaoe. Setiap Selasa dan Rabu malam, dia memberikan kajian budi pekerti kepada para pengajar. “Guru juga menjadi kunci utama agar pendidikan maju. Mereka adalah teladan,” ujarnya.

Baginya, Kampoeng Sinaoe adalah upayanya menjawab atas kritik kondisi pendidikan yang dia anggap kering dari penanaman nilai kejujuran, kesopanan, serta toleransi. “Semuanya melulu diukur dengan angka dan materi. Tidak heran kecurangan dan mau menang sendiri jadi fenomena di sekolah dan bahkan guru juga murid,” tuturnya.

Dia bahkan tidak pernah mendorong murid-muridnya untuk mengikuti ajang kompetisi apapun. Menurutnya persoalan membangun adab dan perilaku lebih penting dibanding urusan menang kalah yang cenderung menjadi ukuran kompetisi, apapun bentuknya.

Dalam sepuluh tahun terakhir, kegigihan Zamroni tidak hanya berjasa menyalakan semangat belajar mengajar di Siwalanpanji. Tanpa disadari, peluang ekonomi perlahan juga muncul di sekitar lokasi Kampoeng Sinaoe yang ditandai munculnya warung-warung yang menyediakan aneka panganan bagi murid-murid. Beberapa rumah juga menyediakan jasa penginapan bagi murid-murid yang berasal dari luar kota seperti Surabaya, Malang, dan Gresik.

Zamroni mengatakan, ingin terus mengembangkan Kampoeng Sinaoe. Kini dia tengah menyusun kurikulum-kurikulum pelajaran yang baru demi memperkaya menu akademik. Ketika ditanya apa yang terus menggerakkannya dirinya, dia hanya menjawab, “Saya mau terus berbagi.”

Leave a Reply

Required fields are marked*