“Siapa di sini yang pakai Skype, Path, Youtube atau Instagram?”. Tak sedikit yang mengernyitkan dahi, geleng-geleng kepala atau bahkan hanya diam membisu. Hanya segelintir yang berani mengangkat tangan. Termasuk saya yang biasa aktif di akun terakhir yang telah disebutkan.

“Masa nggak tau sih. aduh, piye tho iki! Wah pancen generasi Sinsgosari!”. Sontak dua ratus peserta dalam kuliah umum bertajuk Technology, Literacy, Language Learning for Language Teacher Teaching Z Generation di Aula Pascasarjana Universitas Negeri Malang tertawa terbahak-bahak. Entah memang celetukan itu lucu atau mungkin juga merasa tersindir. Menertawakan diri sendiri. 

Adalah Gumawang Jati yang menyindir dua ratus peserta dalam kuliahnya kemarin (1/9). Seorang Dosen Bahasa Inggris yang mengajar di Fakultas Seni dan Desain ITB. Tapi, bukan profil dia yang ingin saya ceritakan di sini. Lebih kepada apa yang dia sampaikan.

Pertanyaan Gumawang bukan barang asing di telinga anak muda zaman sekarang. Sederet nama aplikasi itu sangat akrab di tangan mereka. Ya, Generasi Z kita menyebutnya. Mereka sangat fasih teknologi. Bukan lagi melek, but technology is in their hand and mind! Sudah pemandangan umum kalau HP, ipad, tab, laptop atau berbagai media digital berbasis ineternet lainnya, menjadi bawaan wajib mereka. Mereka amat multitasking. Bisa mengerjakan berbagai aktivitas  dalam satu waktu yang bersamaan. Mereka bisa membaca, berbicara, menonton, atau mendengarkan musik dalam waktu yang bersamaan. Kalau sudah di depan smartphone jangan harap orangtua kasih petuah panjang lebar akan didengar.Ironis? Ngeri? Well, saya pikir kita harus melihatnya dari berbagai sisi. Tidak serta merta menyalahkan mereka, si generasi Z ini, atau bahkan menuntut mereka untuk menuruti kita (generasi Singosari, haha). The world has changed!

1298-cara-bermain-tepat-untuk-generasi-z-usia-pra-sekolah
sumber: http://www.tabloidnova.com

Saat melihat fenomena ini awalnya saya sempat sebal. Karena era digital merenggut anak-anak dari kehidupan sosial. Mereka jadi lebih banyak menghabiskan waktu di depan gadget mereka, daripada bermain bersama teman-temannya di luar sana. Ditambah orangtua yang dengan mudah memberikan gadget ke anak-anak mereka tanpa ada pengarahan. Yang penting anaknya nggak rewel, lalu selesai.

Tapi, Pak Gumawang membuka pikiran saya. Bukan dengan menolak cara kita menghadapi fenomena ini. Tapi, dengan negosiasi. Tidak bisa dipungkiri era digital akan membuat semua orang bahkan anak berusia dua tahun keranjingan gadget beserta seperangkat aplikasi di dalamnya. Kata pria lulusan doktor UPI tersebut, justru seperangkat alat itu dapat menjadi media pembelajaran. Apalagi bagi seorang guru dan orangtua. “Menjelaskan grammar di depan muridmu dengan panjang lebar di papan tulis jangan harap mereka betah. Bahkan dalam waktu 10 detik mereka akan beralih ke gadget. Diam-diam!” tuturnya. That’s so old fashion, menurutnya. Siswa dan mahasiswa sekarang lebih memilih media yang visual. Mereka lebih memilih story telling dengan media visual. Entah video, film atau alat pembelaran yang dibuat sedemikian menarik.

Beri tugas yang membebaskan mereka dalam menentukan topik. Poin selanjutnya untuk para guru, pendidik dan orangtua, versi Pak Gumawang. Dia bercerita, setiap dalam kelasnya, mahasiswa bebas menentukan topik apa saja. Lalu, mereka mengaplikasikannya dalam media apapun. Boleh video, tulisan atau film pendek. “Saya selalu melibatkan aplikasi dan internet dalam pembelajaran. Ada banyak sekali aplikasi yang membantu guru maupun siswa dalam pembelajaran kelas. So, don’t be afraid,”   lanjutnya. Sekali waktu dia mengajak siswa untuk membuat CV semenarik mungkin. Lewat laman Linked In, Gumawang meminta siswanya membuat CV dalam bahasa Inggris. Beri mereka tantangan, katanya. Sebab, generasi Z  cenderung menyukai hal-hal yang bersifat aplikatif dan menyenangkan.

Lantas, terlintas dalam pikiran saya bahwa niat di awal menjauhkan gadget sejak dini untuk anak saya kelak akan saya tata ulang. Bukan menjauhkan, tetapi mengarahkan. Kita, sebagai orangtua, pendidik harus hadir di dalamnya. Catatan buat kita, buat saya. Intinya, di dalamnya membutuhkan kesadaran dan sikap arif dari para pendidik dalam menghadapi anak-anak generasi Z. Happy teaching and learning! 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here