Sebelum melahirkan saya berusaha update ilmu seputar parenting, mengulik ilmu mengurus bayi hingga hal-hal kecil seperti apa saja perlengkapan bayi saat ia lahir. Tapi saya lupa untuk mempersiapkan diri sendiri jika bayi nanti lahir. Saya lupa mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi tapi pada dasarnya tidak ingin saya alami. Ya, misalnya saja proses melahirkan.

Saya ngebet banget bisa melahirkan alami. Eh ternyata takdir berkata lain. Perkiraan lahir sudah lewat masanya lebih dari 40 minggu, tapi belum pula ada tanda bayi turun panggul. Singkat cerita saya berakhir dengan proses cesar. Ekspektasi yang di luar dugaan ini membuat saya depresi. Saya merasa gagal jadi ibu. Merasa tidak sempurna. Hal inilah yang kemudian berujung pada baby blues syndrome. 

Entah mengapa sejak bayi saya lahir saya justru merasa muram, lelah luar biasa, dan mudah sekali tersinggung. Bayi minta nyusu setiap dua jam, tengah malam tak jarang suka rewel. Saat digendong ia memang tertidur, tapi jika diletakkan di kasur kembali menangis. Begitu seterusnya sampai subuh. Ditambah luka bekas cesar yang rasanya masih menyayat. Saya merasa seperti zombie. 

Hal itu berulang setiap hari, dua puluh empat jam dalam seminggu. Kala itu saya merasa ‘terkungkung’, hidup saya berasa di penjara, dirantai, semua didedikasikan untuk si bayi. Tak jarang saya menangis,  baik diam-diam maupun terang-terangan di hadapan suami. Sikap saya kemudian ditanggapi ‘remeh’ bahkan oleh ibu saya sendiri. ‘Sudahlah gitu aja nangis, kamu mah dikit-dikit sensi!’ begitu kata beliau saat saya merasa tak sanggup mengurus bayi di awal-awal melahirkan. Pada akhirnya saya kemudian membandingkan kehidupan sebelum dan setelah menjadi ibu. Lantas, pikiran ‘andai kata’ tiba-tiba selalu terlintas… Andai kata saya bisa melahirkan alami.. Andai kata saya nggak hamil dulu jadi bisa jalan-jalan…Andai kata saya tetap kerja dan bisa nongkrong bareng teman-teman…Andai kata yang tak pernah usai.

Sebulan…dua bulan..tiga bulan… ‘kemuraman’ saya semakin menjadi. Saat di rumah hanya berdua dengan bayi saya malah sedih. Entah mengapa. Seolah saya akan menghadapi mimpi burukApalagi jika bayi mulai rewel, menangis jejeritan seolah disakiti ibunya sendiri. Kalau sudah dipuncak kelelahan, saya jadi turut emosi.

Perasaan terasing, terkungkung dan kesendirian itu berlangsung hingga lewat sembilan bulan. Saya memang tidak selamanya sedih sepanjang hari, adakalanya saya senang melihat perubahan bayi dari waktu ke waktu. Tapi entah mengapa sesekali perasaan suram itu muncul seketika.

Saya lantas menyadari ada yang tak beres. Saya ingin sekali keluar dari kondisi itu. Suami tampaknya merasakan hal serupa. Istrinya butuh pertolongan. Alhamdulillah suami seorang yang suportif, solutif dan sabar menghadapi keadaan saya. Selain dukungan suami tentu ada banyak hal yang perlu dilakukan agar sindrom baby blues ini berangsur sirna. Seperti…

1. Berdamai dengan Diri Sendiri

Setelah jadi ibu saya semacam jadi manusia gagal move on. Saya selalu membandingkan kehidupan yang lalu, jauh sebelum menikah dan punya anak. Ah, rasanya hanya berputar saja di situ. Kemudian tak jarang saya menyalahkan diri sendiri mengapa saya tak bisa melahirkan alami..dan seterusnya…dan seterusnya. Padahal tak selamanya kan keinginan sesuai dengan kenyataan. Harus diakui rencana-rencana kita tak selamanya sejalan dengan realitanya. Jadi, yaudahlah ya berdamai dengan kenyataan dan menjalani apa yang terjadi sekarang.

2. Delegasikan Urusan Domestik

Beberapa bulan di awal melahirkan, saya mengurus bayi dan rumah tanpa asisten rumah tangga (ART) ataupun pengasuh. Untungnya suami nggak segan ikutan membantu urusan domestik, seperti cuci piring, menyapu halaman atau membuang sampah. Tapi namanya punya bayi yang butuh perhatian 24 jam, urusan macam memasak, mencuci pakaian dan beberes rumah kadang-kadang bisa terbengkalai. Kalau sudah kelewat lelah ya tentu juga urusan-urusan itu harus tertunda.

Akhirnya suami menawarkan untuk meminta bala bantuan ART. Memang nggak setiap hari, kalau saya cuman minta seminggu sekali. Tugas utamanya mencuci pakaian dan bebersih rumah. Alhamdulillah ini membantu banget. Jadi ibu-ibu kita nggak perlu ragu untuk meminta bala bantuan. Sekali pun itu kepada suami.

3. Me Time

Memang sih sejak punya bayi semua perhatian seluruhnya tercurahkan untuknya. Bahkan waktu untuk sendiri kadang-kadang nggak bisa dan berkurang jauh dibanding sebelum punya anak. Tapi bukan berarti kita nggak bisa me time kan. Nggak melulu jalan-jalan jauh atau menghabiskan duit banyak kok, buibu. Sesederhana bisa mandi luluran tanpa ada teriakan tangisan itu buat saya udah  me time tersendiri. Kalau suami lagi di rumah, minta tolong padanya untuk menjaga si kecil meski sebentar. Lumayan kan kita bisa selonjoran sejenak hehe.

Sesekali baca buku kesayangan, nonton film meski cuman via Youtube atau Nettflix, menulis di blog atau sekadar curhat sama ibu-ibu komunitas via WA grup juga bisa jadi me time tersendiri. Tapi kalau saya sudah kelewat jenuh di rumah terus ya keluar rumah. Silaturahmi ke rumah teman, ngajak anak ke playground atau mengikuti kajian-kajian ilmu di masjid. Ini sungguhan pengaruh di saya, menjauhi pikiran-pikiran negatif yang nggak perlu dan tentu lebih sehat hati dan pikiran 🙂

4. Sharing

Saya tipikal perempuan introvert, sekalipun kepada pasangan sendiri. Duh, jangan ditiru ya! Ternyata bikin rugi sendiri. Pikiran jadi tambah kalut dan nggak nyaman. That’s why penting banget berbagi apa yang kita rasakan kepada orang-orang terdekat, suami, adik, kakak, atau sesama ibu yang senasib. Sharing melalui tulisan juga mengurangi kepenatan. Kalau kata penulis Bernard Batubara “Kata-kata yang tak terucapkan itu bakal jadi racun di tubuh sendiri,”. 

5. Bersyukur 

Ah ini klise tapi memang mudah diucapkan susah dilakukan secara istiqomah. Iya, saya seperti lupa bersyukur. Harusnya saya bahagia dititipi Allah amanah yang lucu, menggemaskan dan insyallah shalih. Harusnya saya bersyukur tiada henti bayi saya lahir sehat wal’afiat. Bersyukur sebab masih banyak di luar sana banyak pasangan yang menanti momongan, bersyukur karena di luar sana berapa pasangan yang diamanahi anak-anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan penanganan lebih, bersyukur…bersyukur…dan terus bersyukur. Iya, ini yang saya sering lupa 🙁

Menjadi ibu memang melelahkan, maka jika lelah melanda jangan ragu, bu untuk rehat dan berbagi. Sesekali nggak masalah rumah kotor dan berantakan atau urusan domestik yang belum juga tuntas. Yang penting bahagiakan diri, maka bayi dan keluarga ikut bahagia.

Adakah yang mengalami hal serupa? 🙂

10 COMMENTS

  1. Kehamilan kedua saya baru saja sebulan lalu di cesar mba, saya nerasakan banget sakitnya mba n harus begadang bahkan kemarin sempet demam dan aku merasa useless bgt mb dan betul sx kita butuh temen bicara yg beneran ngerti kadang org terdekat ya gitu blg masa gitu aja seolah ga merasakan heehe

  2. Wahhh itu bukan baby blues mba namanya, tapi postpartum depression.
    Bedanya, kalau baby blues paling lama 2 mingguan lebih dikit sejak melahirkan.

    Lebih dari 2 minggu udah masuk kategori yang berat yaitu postpartum depression.

    Alhamdulillah bisa segera sembuh ya.

    Btw, ternyata masih banyak ya ibu-ibu muda zaman sekarang yang menganggap lahiran normal itu segalanya.
    Saya malah hepi aja tuh sesar meskipun terpaksa.
    Soalnya saya mikir, mau lewat manapun toh sama saja, saya tetep dipanggil ibu seutuhnya sama anak hehehe..

    Tapi emang tiap orang beda2 yaa..

    Dan tugas kita nih agar menyebarkan pesan menguatkan wanita2 yang terpaksa sesar.

    Insha Allah sesar pun gak akan mengurangi nikmatnya melahirkan.
    Penuh cerita dan sakit juga.

    Saya malah lahiran kedua minta sesar sendiri.
    Dan hasilnya 2 kali melahirkan saya sama sekali belum tau, seperti apa sih rasanya kontraksi mau lahiran itu?

    Semangat selalu yaaa mbaa, insha Allah masih banyak tugas kita sebagai ibu yang menantang ke depannya.
    Jauh lebih menantang daripada melahirkan.

    Yaituuu mendidik anak.
    Salah didikan, rusak selamanya..

  3. Alhamdulillah udah berhasil di lalui ya mbak, semangat-semangat. Dulu aku juga gitu kalo lihat ceriat baby blues kayak heran, tapi ternyata kejadian beneran meski tipis-tipis. Mungkin kalo anak pertama perpaduan sama kaget dengan peran baru, abis proses melahirkan yang bayangannya bakal melegakan, tapi ternyata disambut segudang kerjaan dan tanggung jawab baru…

    Semoga sehat sehat selalu ibu dan adek bayi :))

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here