SISWA kelas XII IPS 4 tampak serius mengerjakan soal . Tidak ada seorang pun yang mengobrol atau mengganggu temannya. Masing-masing sibuk dengan buku catatan. Di antara 35 siswa, ada satu murid berkebutuhan khusus yang menggunakan laptop untuk mengerjakan soal. Siswa tersebut adalah Alfian Andika Yudistira. ”Laptop ini memudahkan saya mengerjakan soal sekaligus belajar,” kata Alfian.

Dia adalah siswa tunanetra di SMAN 8 Surabaya. Total ada enam siswa disabilitas yang bersekolah di sana. Untuk pembelajaran sehari-hari, Alfian menggunakan laptop. Sepintas tidak ada yang berbeda dalam laptop tersebut. Di dalamnya terdapat software job access with speech (JAWS). Al­fian mendengarkan soal melalui headset. Kemudian, dia mengetikkan jawaban. ”Sudah hafal huruf dan angka pada keyboard,” katanya. ”Jadi, tidak salah mengerjakan soalnya,” lanjutnya.

Meski tampak berbeda dengan temannya, Alfian tidak canggung berbaur dengan mereka. Bahkan, dia dianggap siswa yang paling banyak bicara. ”Ya saya suka berdiskusi apa saja,” ujar siswa kelahiran Surabaya, 30 Oktober 1997, itu. Alfian termasuk siswa disabilitas yang aktif. Bahkan, dia lolos dalam lomba pelopor pelajar yang diselenggarakan Dispendik Surabaya tahun ini.

Alfian hanya coba-coba untuk mengikuti lomba tersebut. ”Dapat info dari guru. Saya pun mendaftar,” ujarnya. Anak keempat dari lima bersaudara itu mengaku tidak melakukan persiapan khusus saat mengikuti lomba pelajar pelopor. ”Hanya menyiapkan berkas-berkas administrasi,” katanya. Tidak disangka, dia lolos tes tulis dan wawancara.

Alfian (kiri) bersama teman-teman sekelasnya source: FB Alfian

Saat lolos tahap selanjutnya, yang perlu dilalui adalah focus group discussion (FGD). ”Saya paling suka tahap ini,” ucap Alfian. ”Sebab, pada tahap ini saya bisa bertukar pikiran dengan teman-teman baru. Menyenangkan,” lanjutnya.

Saat diumumkan, Alfian lolos dalam enam besar. ”Alhamdulillah, saya juga nggak nyangka,” tuturnya. Dia menyingkirkan 120 siswa sekolah lain yang tersebar di Surabaya. Alfian satu-satunya siswa disabilitas yang mewakili sekolah inklusi di Surabaya. ”Katanya ini baru kali pertama ada siswa disabilitas yang lolos lomba ini,” ujarnya.

Selain kerap mengikuti lomba, Alfian aktif dalam beberapa organisasi. Di antaranya, Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Cabang Surabaya, Komunitas Mata Hati, Lembaga Pemasyarakatan Tunanetra Surabaya, dan Relawan Demokrasi untuk Pilkada Surabaya.

Alifian mengatakan, aktif dalam organisasi merupakan hal yang penting. ”Karena ini juga termasuk kewajiban saya. Bagaimana saya juga bermanfaat bagi yang lain,” tuturnya.

Menurut Alfian, keterbatasan termasuk anugerah Tuhan. ”Bukan kekurangan. Sama dengan orang-orang yang berbeda ras, kulit, dan budaya,” paparnya. ”Jadikan sesuatu yang lain ini menjadi hal positif,” lanjut Alfian.

Saat kali pertama masuk sekolah reguler, Alfian merasa canggung. ”Awalnya saya bingung harus bagaimana,” katanya. ”Jadi, setiap kali ada yang duduk di sebelah saya, ya saya berinisiatif mengajak ngomong terlebih dahulu,” tuturnya

 

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here