Tampak depan gang yang bertuliskan jalan Jaksa Agung Suprapto Gang 1 itu biasa saja. Nggak ada yang istimewa. Gang yang bersanding tepat dengan SMAK Cor Jesu Malang itu malah terkesan nggak terawat. Motor lalu lalang, beberapa becak ngetem nggak jauh dari mulut gang. Lalu ada warung kopi di dekat situ.

Tapi, saat saya menyusuri gang jauh agak ke dalam, ada yang berbeda. Sepanjang jalan di sisi kanan dan kiri dinding-dinding rumah warga terlukis ornamen batik yang berbeda-beda coraknya. Kampung ornamen Celaket, begitu sebutan oleh warga.  “Motif batiknya macam-macam, ada batik dari Kalimantan, Papua, ada juga asli sini (Malang),” kata Junaedi warga asli Kampung Celaket.

Pemandangan tersebut sudah berlangsung sejak dua tahun lalu. Kampung yang dulunya ‘mati suri’ itu kini telah ramai oleh turis-turis lokal yang ingin mengabadikan momen di kampung tersebut. Bahkan, telah menjadi salah satu kampung percontohan wisata dan kerap dikunjungi pihak dinas kebudayaan dan pariwisata.

Waktu saya mbolang ke sana kebetulan ada kegiatan dari pihak Disbudpar Yogyakarta. Mereka membawa rombongan siswa-siswa untuk menggali potensi kampung tersebut.

Kemunculannya tentu nggak tiba-tiba. Ternyata ada ‘dalang’ di balik tenarnya kampung ornamen Celaket. Adalah Erton atau yang akrab disapa Mbah Tong, penggagas kampung ornamen Celaket. “Kampung Celaket ini lokasinya di tengah kota tapi nggak kedengaran gaungnya. Makanya saya harus berbuat sesuatu,” ujar pria kelahiran asli Malang itu.

Mbah Tong yang seorang seniman itu tergerak hatinya untuk menghidupkan kampung kelahirannya. Sepulang dari perantauan (lupa saya dari mana hehe) dia mengumpulkan teman-temannya untuk mempercantik kampung tersebut.

Sebelumnya Mbah Tong dan rekan-rekannya meminta izin ketua RT setempat dan para warga. Tentu nggak berjalan mulus-mulus saja. Mbah Tong mengaku mendapat beberapa penolakan dari warga. “Nggak gampang sih awalnya. akhirnya kami mengawali menggambar di tembok rumah teman kami,” ujarnya.

salah satu rumah warga

Lukisan pertama bercorak batik keris mendapat beberapa apresiasi. Warga mulai melihat hal itu menjadi sesuatu yang unik dan menarik. Beberapa warga akhirnya meminta dilukiskan dinding rumah mereka. “Akhirnya pada rebutan rumahnya minta dilukis batik,” kata Mbah Tong.

Namun, kendala dana menjadikan project tersebut menjadi tersendat. Sehingga belum semua dinding dilukis batik. Mbah Tong mengaku biaya untuk mengecat dan tetek bengek lainnya didapat dari iuran komunitas seniman kampung ornamen Celaket.

Dia mengaku membutuhkan dana yang besar untuk melukis semua dinding di kampungnya. Namun, Mbah Tong dan teman-temannya hingga kini masih bersikeras untuk tidak meminta dana dari pihak mana pun. “Supaya idealisme kami terjaga. Biar mandirilah,” tuturnya.

corak batik tulis Malangan. Identik dengan simbol Singa

Sejak saat itu kampung tersebut lebih ‘hidup’. Beberapa event digelar agar semakin menarik minat warga luar kampung Celaket. Misalnya, International Cross Culture Festival, Festival Padang Bulan, Festival Kampung Celaket dan lain-lain. Warga pun menjadi kecipratan rejeki. Warung-warung mereka jadi laris, ibu-ibu yang dulunya hanya ngerumpi kini ikut bersama membatik tulis.

Oya, ada lagi satu yang menarik minat saya. Di kampung ini juga terdapat butik batik tulis Celaket. Kita bisa belajar membuat batik langsung dari para pengrajin yang merupakan warga asli Celaket. Nah, kalau mau belajar batik ada biayanya. dipatok harga Rp 50 ribu dan boleh membawa pulang hasil karya kita.

Butik ini juga menjual beraneka ragam motif batik tulis. Mulai batika Yogyakarta, Malangan, Kalimantan, bahkan Madura. Baik yang masih berupa kain maupun yang sudah jadi pakaian. Harganya pun beragam. Untuk kain utuh dibanderol mulai Rp 150-450 ribu. sementara yang sudah jadi pakain berkisar Rp 250-800 ribu. Pas saya ke sini lagi nggak bawa duit banyak, jadi ya nggak beli haha. Lihat-lihat saja sudah senang 😀

Selain kain batik, ada pula beberapa pernak-pernik dan aksesoris yang bernuansa batik tulis. Misalnya, sepatu kain, tas kain dan bahan-bahan perawatan kain batik tulis seperti lerak.

Oya jika berkunjung ke sini jangan terlalu siang, ya panasnya nggak nahaaaan hehe. Apalagi saya ke sini pas bawa bayi, duh nggak nyaman kalau terlalu siang. Lebih baik berkisar jam 8 sampai jam 10. Atau sore setelah ashar.

mulai bete diajak emaknya foto-foto terus 😀

Tertarik berkunjung kemari? Wisata murah meriah, lho. Kecuali kalau beli batik tulisnya hehe.

 

16 COMMENTS

  1. Saya py banyak kenangan indah d Celaket ☹️ <3
    Dlu tembok blum ad d gambar mcm batik itu .. sya masih ingt d dpan gang 1 ad warung nasi kecil .. ah kenangan …..
    Btw mbak Zahra asli Celaket kah ?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here