Sejak hamil saya sudah bertekad untuk memberikan Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif. Maka segala informasi mengenai ASI saya serap untuk bekal ketika menyusui kelak. Saya mulai rajin baca ilmu menyusui dari internet, buku, bahkan dengan semangat mengikuti kelas online maupun offline. Saya pun menjadi mantap dan merasa percaya diri bahwa saya bisa menyusui dengan sukses.

Namun setelah anak saya, Akmal, lahir ternyata ada beberapa kendala selama proses menyusui. Saya melahirkan melalui proses caesar sehingga tidak bisa segera melakukan proses inisiasi menyusui dini (IMD).

Beberapa jam saya dipisah dengan bayi di ruangan yang berbeda. Meski selanjutnya dipertemukan dengan bayi, kala itu saya masih takut untuk memberikan ASI. Sebab, kondisi pasca melahirkan membuat saya hanya bisa terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Hanya sesekali saya memberikan ASI pada bayi. Alhasil, bayi saya sempat mengalami neonatal jaundice atau biasa dikenal dengan sakit kuning. Kata dokter spesialis anak bilirubinnya tergolong tinggi, yakni mencapai 15. Dan dari sini drama ASI (tidak) eksklusif dimulai.

Selama tiga hari berturut-turut Akmal harus dirawat di ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit). Sementara tidak ada ruang khusus inap untuk orang tua di rumah sakit. Dan saya belum memiliki stok ASI yang cukup untuk kebutuhan Akmal selama rawat inap. Padahal, menurut perawat kala itu bayi baru lahir membutuhkan ASI sebanyak 30 ml sekali minum per dua/tiga jam.

Saya mencoba pumping dengan alat pemompa dari rumah sakit. Namun, selama hampir satu jam hanya mengahasilkan 5 ml ASI. Kondisi yang sudah lelah dan tegang akan meninggalkan bayi saat itu membuat ASI saya macet. Ditambah puting lecet dan bayi yang lemah sehingga malas menyusu, membuat ASI tidak keluar. Saya frustasi, sedih dan marah pada diri sendiri. Akhirnya dengan terpaksa perawat memberikan Akmal susu formula.

Saya kira dulu menyusui adalah proses alamiah seorang ibu, jadi semua ibu pasti bisa menyusui dengan berhasil. Rupanya, menyusui itu butuh perjuangan. Setelah melewati masa-masa sulit di awal menyusui, ada banyak hal yang perlu diperhatikan agar sukses menyusui. Apa saja?

1. Yakin dan Percaya Diri

Kunci utama dari proses menyusui! Kita harus yakin bahwa kita bisa memberikan yang terbaik kepada bayi dengan memberikan haknya melalui ASI. Pikiran yang positif dan percaya diri akan merangsang hormon oksitosin, yakni hormon yang berperan merangsang keluarnya ASI untuk bekerja dengan baik. Nah, hormon ini sangat dipengaruhi oleh suasana hati yang ibu-ibu rasakan.

Emang sih bener banget, waktu di awal menyusui pasca operasi caesar saya masih mengalami jetlag rasanya setelah melahirkan dan langsung mengurus bayi. Saya merasa takut, tegang dan muncul pertanyaan-pertanyaan “apakah bisa mengurusnya dengan baik?”; “kira-kira ASIku cukup nggak ya?” dst..dst.. Alhasil ya bener banget ASI jadi macet.

So, penting banget untuk menjaga emosi dan mood saat menyusui. Apapun masalah yang kita hadapi usahakan selalu tenang dan menjalani dengan ikhlas. Alhamdulillah semakin saya berpikiran positif dan percaya diri ASI jadi lancar. Yang penting percaya saja sama Allah kalau kita mampu menyusui. No galau dan baper yaa. Hehehe.

2. Edukasi Seputar Menyusui

Ini juga penting banget! Menyusui tidak hanya sekadar menyodorkan payudara kita ke bayi. Banyak hal yang perlu dipelajari, seperti bagaimana pelekatan yang baik, bagaimana posisi menyusui yang benar, bagaimana memerah ASI dan cara menyimpannya dengan tepat, dst…dst…dst.

Meski sudah belajar otodidak seputar menyusui, di awal-awal saya masih saja masih mengalami kendala. Ya puting lecet, ya salah pelekatannya, ya salah mompa, tapi ya namanya kan juga belajar jadi dinikmati aja hehe. Makanya penting belajar langsung dari yang ahli. Jangan sungkan tanya ke dokter, bidan atau konselor laktasi. Apalagi sekarang banyak kelas-kelas menyusui baik di rumah sakit, internet maupun diskusi dengan komunitas.

3. Makan-makanan Bergizi

Iya dong! Kan ibaratnya kita memberi makan buat anak masa makan sembarangan. Eh tapi kalau pengen banget makan mie instan boleh lah sesekali hahaha, asal dilengkapi dengan sayur. Intinya, saat menyusui kudu memperhatikan nutrisi. Perbanyak sayur, buah dan juga air mineral.

Makan makanan yang dipercaya bisa memicu produksi ASI. Misalnya, kacang hijau, daun katuk, daun bayam, kacang-kacangan, susu kedelai, dsb. Apapun makanannya tetep ya nomor satu kudu PEDE kalau ASI kita lancar jaya.

4. Lengkapi dengan ASI Booster Tea

Selain makan makanan bergizi, kita bisa juga melengkapi dengan makanan/minuman penambah ASI yakni ASI Booster Tea. Asi Booster Tea ini minuman pengganti teh untuk ibu menyusui. Lucunya meski namanya teh tapi sesungguhnya tidak ada kandungan daun teh di dalamnya. Sehingga tidak mengandung kafein, jadi aman banget buat busui.

Komposisi bahannya pun terbuat dari bahan-bahan alami. Seperti fenugreek seed, fenugreek powder, fennel seeds, fennel powder, cinnam venum, alpinia powder, dan habbatussauda. Ada dua jenis varian yakni  yang berbentuk biji-bijian dan satu lagi berbentuk serbuk siap minum. Kalau lagi malas bikin kacang hijau yang prosesinya lumayan panjang, ASI Booster Tea ini bisa jadi pilihan 🙂

5. Dukungan Suami dan Lingkungan

Bagaimanapun dukungan suami dan keluarga juga memberi peranan penting terhadap kelancaran ASI. Ternyata masih banyak lho orang-orang terdekat yang menganjurkan ibunya untuk memberikan susu formula pada bayi mereka, lantaran susu yang keluar sedikit. Padahal di awal menyusui apalagi pasca melahirkan kebutuhan susu bayi memang masih sedikit. Lha wong lambungnya aja diperkirakan masih sebesar biji kelereng.

Jangan sungkan meminta bantuan ke suami atau keluarga untuk meringankan tugas mengurus bayi. Saya aja pasca melahirkan dibantu orang serumah hahaha. Alhamdulillah suami nggak malu buat turun tangan untuk mengganti, mencuci popok dan menggendong, serta mengerjakan beberapa kegiatan domestik lainnya.

Mencari teman seperjuangan juga bisa dilakukan agar kita semakin semangat menyusui. Bisa lewat komunitas sesama ibu-ibu atau seminar, contohnya yang saya ikuti beberapa waktu lalu di meet up best bunda Surabaya Oxytocin Journey. Kami saling berbagi cerita dan ilmu bagaimana perjalanan menyusui.

Alhamdulillah setelah melalui drama di awal, kini saya bisa menyusui ASI tanpa bantuan sufor. Semoga ke depan bisa menyusui sampai dua tahun aamiin. Dan semoga ibu-ibu yang lain juga diberi kemudahan ya. Semangat mengASIhi anak-anak kita buibu! 🙂

Breastfeeding everywhere, everytime

6 COMMENTS

  1. Seru perjalanmu menyusui. Nggak kebayang gimana rasanya liat anak di NICU 🙁

    Terima kasih ya. Tulisannya memberi aku banyak ilmu baru. Semoga bisa mengASIhi sampai 2 tahun… Aamiin

  2. Iya mba memang harus percaya diri, yakin ASI kita cukup. Waktu anak pertama aku jg gak percaya diri. Tp pas anak kedua percaya diri bgt, dan Alhamdulillah hitungan jam saja ASI sudah kluar. Semangat ASi yaaa

  3. Iyanih mbak percaya diri penting banget kaykanya, doakan aku juga nanti bisa men-asi-hi anakku yaaa hehe. Kadang ngerasa agak kurang percaya diri gara-gara merasa kurus huhuhu. Padahal sebenernya juga banyak orang kurus lainnya yang berhasil.

Leave a Reply to Ria Nugros Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here